Artikel Terbaru

Manuel Boeng Napiun: Cinta dan Kesetiaan Sang Perawat Makam

Bukti Cinta: Kong Boeng membersihkan dedaunan yang gugur di Pemakaman Katolik Kampung Sawah.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Manuel Boeng Napiun: Cinta dan Kesetiaan Sang Perawat Makam
3 (60%) 2 votes
HIDUPKATOLIK.comOrang mati memang betah di kubur. Engkong Boeng pun betah, 45 tahun bekerja di pemakaman. Ia percaya Tuhan memberinya rematik agar tak pergi-pergi.
Engkong Boeng seakan tak mau menyerah dengan kerentaannya. Punggungnya sudah bungkuk udang. Telinganya tak sanggup lagi mendengar suara dengan jelas. Kedua kakinya pun telah mengingsut kecil. Kata Kong Boeng, rematiklah yang membuat kakinya seperti itu. Penyakit itu ia derita sejak belasan tahun lalu.
Rematik juga membuat Kong Boeng tertatih-tatih dan tak sanggup berdiri lama. Betul saja, siang itu, ia nekat berdiri dan berjalan. Baru dua langkah, tubuh Kong Boeng limbung. Nyaris saja tubuhnya roboh ke tanah. Ia lalu jongkok. Dengan posisi seperti itu, Kong Boeng seolah-olah menjadi muda kembali.
Sesaat kemudian diambilnya sapu lidi, dengan tangan kanannya yang masih bertenaga, Kong Boeng menyapu dedaunan dengan akas. Sedangkan tangan kirinya menumpu tubuh agar tak terjerembab. “Kalau begini (jongkok –Red) siap dah, Tong. Saya sanggup ngebersihin dari ujung sini sampe sono,” katanya dengan dialek Betawi kental.
Didorong Cinta
Pria asli Kampung Sawah ini sudah 45 tahun merawat satu-satunya Pemakaman Katolik di kampungnya. Pada Agustus nanti, Kong Boeng, yang bernama lengkap Manuel Boeng Napiun akan berusia 87 tahun. Tiap hari, dari pagi hingga sore, ia berada di makam. Bahkan pada hari libur dan hari raya, Kong Boeng tak pernah absen. Hatinya seolah telah tertambat di makam seluas 3.300 meter persegi di Jalan Raya Kampung Sawah, Bekasi.
Orang yang sungguh-sungguh mencintai, rela berkorban untuk orang yang dicintainya. Rasa itulah yang membawa Kong Boeng ke makam. Ia sadar, demi cinta itu ia harus berkorban. Tak hanya soal waktu dan tenaga, tapi harga diri. Manusia mana yang sudah memiliki posisi penting di sebuah institusi, rela menjadi perawat dan penjaga makam? Apalagi tanpa digaji!
Sebelumnya Kong Boeng menjadi Kepala Sekolah di sejumlah Sekolah Dasar, antara lain Pamahan, Pondok Melati, Bojongsari, Bojongnangka, dan Pondok Gede. “Saya ngabrak aja (pindah ke mana saja –Red), pensiun tahun 1986,” kenangnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*