Artikel Terbaru

Cara Mendoakan Arwah

Cara Mendoakan Arwah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comApakah seorang Katolik boleh “mengirim uang” untuk leluhur dengan membakar kertas seperti uang dalam tradisi Tionghoa dan mengirimkan rumah-rumahan? Bagaimana dengan mempersembahkan kue-kue dan buah-buahan dalam doa untuk para arwah? Apakah hal-hal ini bisa dianggap juga sebagai ungkapan budaya?

Carolina Yenny Lestari, Malang

Pertama, kita perlu menyadari bahwa dalam ungkapan-ungkapan budaya biasa terselip suatu ajaran kepercayaan yang mendasarinya, terlebih dalam upacara keagamaan. Misal mengirim uang-uangan dan rumah-rumahan kertas didasari kepercayaan bahwa di alam baka masih dibutuhkan uang dan rumah meskipun tidak secara jasmaniah tetapi secara rohaniah. Kebutuhan-kebutuhan itu bisa dibantu mereka yang masih hidup ini dengan mengirimkan kebutuhan itu dari dunia dengan cara membakar di dunia ini benda-benda yang serupa sehingga nanti di alam baka para arwah ini akan memperoleh secara rohani hal yang mereka butuhkan. Mempersembahkan kue dan buah-buahan juga mempunyai latar belakang ajaran rohani yang sama. Kue dan buah yang disukai orang yang meninggal dunia itu nanti akan bisa dinikmati yang bersangkutan karena “ada kiriman” dari dunia ini.

Ajaran yang demikian ini tentu tidak cocok dengan ajaran Gereja Katolik seperti yang dikatakan Yesus, “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga.” (Mat 22:30). Kehidupan seperti malaikat di surga tentu juga tidak lagi berurusan dengan uang atau makanan seperti di dunia ini. Tidak ada lagi kebutuhan-kebutuhan seperti yang kita rasakan di dunia. Seperti malaikat hidup secara rohani.

Kedua, karena ada perbedaan ajaran tentang alam baka, maka orang Katolik tidak perlu mengirim uang atau rumah kertas untuk memberikan bekal bantuan kepada arwah di alam baka. Praktik semacam ini memang dipandang sebagai bagian dari budaya, tetapi sudah sangat kental mengemban ajaran kepercayaan tertentu. Maka sebaiknya tidak perlu dilakukan seorang yang sudah memeluk iman Katolik. Praktik lain yang bertentangan dengan ajaran iman Katolik ialah menyematkan benang merah pada saat pemakaman. Hal ini perlu direnungkan lebih mendalam jika ingin melakukan proses inkulturasi.

Hal ini berbeda dengan penggunaan hio untuk berdoa bagi para arwah. Penggunaan hio diperbolehkan dalam ajaran Gereja Katolik karena tidak terkait erat dengan ajaran iman tertentu dan bisa dikatakan sebagai murni ungkapan budaya. Malahan ada kesamaan dengan penggunaan dupa dalam Gereja. Sembah sujud (Cina: pay kui) juga tidak dilarang karena juga bisa dipandang sebagai ungkapan murni budaya.

Ketiga, perlu untuk membantu sanak saudara atau leluhur yang sudah meninggal dunia juga diakui dan diberi tempat dalam Gereja Katolik, yaitu melalui doa-doa bagi para arwah. Bantuan rohani ini bisa berupa olah tapa atau matiraga, doa-doa, persembahan melalui intensi pada perayaan Ekaristi. Bantuan ini bisa diberikan kepada para arwah, baik yang dulu beriman Katolik maupun bukan Katolik. Bantuan yang paling berkenan kepada Allah Bapa bagi para arwah tentu adalah pahala yang dilakukan Yesus Kristus dalam persembahan diri-Nya di salib. Pahala Yesus Kristus inilah yang dihadirkan kembali melalui perayaan Ekaristi yang dipersembahkan untuk intensi para arwah.

Praktik mendoakan para arwah ini boleh menggantikan praktik mengirim uang, rumah, kue atau buah-buah untuk para arwah dalam tradisi Tionghoa. Praktik doa arwah ini bisa dilakukan sepanjang tahun, terlebih pada Hari Para Arwah, setiap l2 November atau pada peringatan arwah Ceng Beng. Praktik doa arwah juga bisa dilakukan pada peringatan-peringatan tahunan orang yang meninggal dunia.

Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*