Artikel Terbaru

Memasuki Usia Senja

[chastoriesinlife.info]
Memasuki Usia Senja
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Berusia panjang, bagi banyak orang merupakan suatu rahmat. Ironisnya, ketika usia panjang itu benar-benar dialami, dan orang menyadari dirinya mulai memasuki usia senja, tidak sedikit yang kemudian menghayatinya sebagai saat akhir kejayaan hidup. Mungkin yang sebenarnya diinginkan banyak orang adalah dikaruniai kemudaan yang panjang. Padahal, menjadi tua adalah keniscayaan lebih lanjut jika orang dikaruniai usia panjang.

Data dari riset-riset gerontologi melaporkan bahwa ketika orang mulai menyadari ketuaannya, saat itulah fase kritis hidup banyak orang bermula. Kesadaran ini tidak selalu muncul bersamaan pada masing-masing orang yang mengalami. Namun, kondisi yang memicu munculnya kesadaran itu pada banyak orang relatif sama, yakni saat mulai dirasakannya penurunan kondisi fisik (misalnya kemampuan motorik, fungsi tubuh, munculnya gangguan/penyakit degeneratif), psikologis (mudah lupa, rasa kesepian, kurang cepat beradaptasi) maupun sosial (berkurangnya peran sosial, menyempitnya medan pergaulan, dsb) yang saling berinteraksi.

Menerima atau menolak
Kesadaran akan kondisi-kondisi tersebut apakah akan memicu munculnya problem lebih lanjut atau tidak, sangat dipengaruhi oleh arah penyikapan: menerima atau menolak. Penyikapan dengan kecenderungan menolak dapat termanifestasi setidaknya dalam dua bentuk reaksi: pasif-apatis dan reaktif-skeptis. Sedangkan kecenderungan menerima akan termanifestasi dalam bentuk reaksi aktif-konstruktif.

Pada reaksi pasif-apatis, orang cenderung menolak realitas ketuaan dengan cara menghindar, mungkin di salah satu tataran (pikiran, sikap, dan tindakan) atau malahan di ketiganya. Ada upaya menanamkan keyakinan bahwa kondisi ketuaan itu ”tidak ada”. Atau, kalaupun tetap merasa hal itu ”ada”, dia berupaya tidak mempedulikannya.

Dalam proses waktu lebih lanjut, mereka lalu mudah menyerah pada keadaan yang dipandangnya sebagai takdir-alam. Banyak diantara mereka menjadi sangat tergantung dan menyerahkan otoritas dirinya pada orang lain yang dirasa ”sudah seharusnya” menolong, menopang, bahkan menanggungnya dalam berbagai hal.

Pada mereka yang cenderung reaktif-skeptis, realitas ketuaan memang diakui adanya. Namun, dihadapi dengan sikap penuh protes dan gugatan. Kondisi ketuaan dipandang sebagai tembok penghambat untuk meraih ambisi-ambisi yang masih berlesatan dalam dirinya.

Sikap penuh protes dan gugatan terhadap kondisi ketuaannya, biasanya diproyeksikan ke objek-objek di luar dirinya. Muncul kecenderungan over reaktif, suka mengritik, dan bahkan bersikap serba skeptis terhadap pendapat dan perilaku orang lain maupun kondisi di luar dirinya.

Perasaan, pikiran, dan pandangannya terhadap realitas didominasi oleh subjektivitas. Di matanya, semua orang salah dan banyak kondisi/situasi yang secara objektif sebenarnya wajar-wajar saja, dipandangya sebagai kekacauan. Jika tipe reaktif-skeptis ini terjadi pada orang-orang yang semula memiliki status otoritas tinggi secara sosial, maka efek-efek sebagaimana tersebut di atas menjadi lebih intensif.

Sedangkan mereka yang cenderung bersikap aktif-konstruktif, dapat menerima, menghadapi, dan menjalani realitas ketuaan sebagai kenyataan. Mereka juga mampu menyadari bahwa kondisi tersebut diikuti perubahan fisik, psikologis, maupun sosial. Namun, mereka mampu mengapresiasi bahwa fase ketuaan dengan segala implikasi itu adalah kenyataan alami yang harus dihadapi dan dijalani dengan sikap rela, optimistik, tetap mampu mensyukuri rahmat usia panjang serta berupaya menyesuaikan dirinya, juga mengubah pola kehidupannya sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi.

Mereka biasanya mampu bersikap positif terhadap realitas kehidupan (termasuk ketuaan), tetap produktif dalam bidang/hal yang menjadi minat dan kompetensinya sedari masa mudanya, mampu menemukan serta menghayati momen-momen kebahagiaan dalam kehidupan, mampu bertoleransi, dan terbuka terhadap kritik (tidak defensif).

Jadi, penyikapan aktif-konstruktif ini merupakan model reaksi yang paling ideal bagi orang-orang yang sedang memasuki usia senja. Apakah penyikapan aktif-konstruktif ini bisa dicapai oleh semua orang yang sedang memasuki usia senja? Beberapa riset gerontologi menemukan, pencapaian itu dipengaruhi faktor kepribadian. Namun, perlu dikritisi, sebagian besar temuan riset itu berdasar pada materi kajian post-factum (yang telah terjadi); sehingga sah saja untuk jangan terlalu diyakini sebagai kebenaran-faktual final apalagi universal.

Mencapai yang terbaik
Dengan bakat manusiawinya, setiap orang berpotensi mencapai tataran terbaiknya. Maka, siapapun orangnya, ketika ia memasuki usia senja berkemungkinan untuk mampu menyikapinya secara aktif-konstruktif. Beberapa hal yang dapat menunjang pencapaian itu.

Pertama, penerimaan. Kemampuan dan kesediaan menerima kenyataan tentang ketuaan sebagai keniscayaan, banyak terjadi bukan karena bawaan, tetapi merupakan hasil pergulatan batin yang panjang. Mereka yang terkesan telah memiliki penerimaan yang mendalam, bisa jadi masih terus belajar dan berupaya mencapai kedalaman penerimaan tersebut. Semakin mendalam tataran penerimaan, semakin ringan beban yang dirasakan orang saat memasuki usia senja.

Kedua, memaafkan. Kemampuan dan kesediaan memaafkan masa lalu (baik yang berkaitan dengan problem/konflik dalam relasi dengan orang lain, maupun dengan kegagalan, peristiwa-peristiwa yang menyedihkan/tidak menyenangkan) akan membebaskan orang dari ”kontraksi batin” dan ketegangan fisio-neurologis.

Mereka yang ’sulit’ memaafkan masa lalu, akan memforsir energi fisik-mental untuk bertahan secara berkepanjangan, sehingga mengalami kelelahan yang dapat berefek pada munculnya gangguan psikologis, maupun penyakit-penyakit fisik. Semakin mampu dan bersedia memaafkan masa lalu, semakin besar persediaan energi yang dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif/ konstruktif.

Ketiga, merelakan. ”Merelakan” di sini menunjuk pada kesediaan ”melepaskan” kendali otoritas atas hal-hal/situasi-situasi di luar dirinya yang semula dipegangnya, kepada orang lain (misalnya orang yang lebih muda). Kerelaan ini mensyaratkan sikap percaya (trust) bahwa ada orang lain yang saat ini lebih mampu mengendalikan, menangani hal-hal/ situasi-situasi yang sebelumnya ada di bawah kendalinya (sekarang kurang bisa optimal ditangani mengingat kondisi ketuaannya).

Kemampuan dan kesediaan ”merelakan” relatif akan membebaskannya dari sergapan post-power syndrome, sehingga membuka perspektif untuk mengalihkan fokus orientasinya pada hal-hal lain yang sebelumnya kurang/luput dari perhatiannya (misalnya, membimbing kaum muda, mendalami spiritualitas, dsb).

Keempat, menemukan makna. Banyak orang yakin, ”tujuan utama dalam hidup ini adalah mencapai kebahagiaan”. Apa pun pengertiannya, tercapainya kebahagiaan hidup sangat terkait dengan telah ditemukannya makna kehidupan. Dan, ”makna kehidupan” bersifat sangat personal untuk masing-masing orang.

Ada banyak cara dan media untuk mencari serta menemukan makna kehidupan. Bagi mereka yang memasuki usia senja, cara dan media tersebut bisa dieksplorasi dari aktivitas-aktivitas hidup sehari-hari, pendalaman minat-minat pribadi, maupun melalui keterlibatan dalam aktivitas-aktivitas yang berorientasi sosial maupun spiritual.

Kelima, kesiapan menghadapi kematian. Kematian adalah fase perkembangan berikutnya dari usia lanjut. Realitas ”mati” memang tetap suatu misteri, tetapi kematian itu sendiri pasti. Maka, menyiapkan diri menghadapinya adalah tindakan realistis.

Jika hidup ini dapat dipandang sebagai hak yang dikaruniakan, maka kematian bisa juga dipandang sebagai ”kewajiban”. Pengandaian ini kiranya cukup netral. Dan, siapa pun yang mampu bersikap netral dalam banyak hal, akan merasa lebih ringan dalam mengganjur setiap etape di medan kehidupan, tak terkecuali di etape memasuki usia senja.

Drs H M E Widiyatmadi MPsi

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 3 Tanggal 21 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*