Artikel Terbaru

Petrus Canisius Hardjosudiro: Motor Lawas Mbah Hanoman

Petrus Canisius Hardjosudiro di samping motor lawasnya.
[HIDUP/H. Bambang S.]
Petrus Canisius Hardjosudiro: Motor Lawas Mbah Hanoman
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comNamanya tengah menjadi viral di dunia maya, ia lelang motornya dan sebagian hasilnya ia sumbangkan. Kesederhanaannya menginspirasi banyak mantan muridnya.

Petrus Canisius Hardjosudiro dan motornya seakan telah menyatu. Betapa tidak, motor model Suzuki FR 80 sudah menemaninya selama 39 tahun. Tentu banyak kisah yang ia alami bersama motor keluaran tahun 1977 itu. Motor baginya tak sekadar moda transportasi. “Kuda besi” itu bisa menjadi sahabat yang membantu meringankan pekerjaannya.

Pensiunan guru Kimia di SMA St Johanes de Britto (JB) itu, sebelum memiliki motor, harus menempuh sekitar 14 kilometer pergi-pulang dengan sepeda. Dari kediamannya di Jalan Kresna 25 Kampung Mancasan, Hardjo mengayuh sepeda onthel menuju ladang karyanya di Jalan Laksda Adisucipto no.161, Yogyakarta.

Tak hanya menjadi sahabat, produk asal Jepang itu ternyata dapat pula menjadi sarana untuk menegur dan menyambung hidup. Nama dan motornya yang berkelir hijau kombinasi putih tengah melejit di dunia maya. Bukan semata-mata karena motor itu berhasil dilelang lebih dari Rp 36 juta, tapi karena semangat berbagi Hardjo untuk sesama.

Jeweran Tuhan
Salah satu kisah yang tak bisa dilupakan Hardjo bersama motornya adalah kecelakaan yang menimpanya pada 1986. Saat itu, ia sudah 17 tahun berkarya di JB. Di kolese yang dikelola oleh Serikat Yesus (SJ) itu, Hardjo mengajar kelas 1 dan 2. Di sela-sela tugasnya sebagai guru, kelahiran Yogyakarta, 25 Februari 1936 ini, ternyata juga pemain wayang uwong (wayang orang).

Saat pentas, Hardjo memerankan Hanoman, tokoh kera putih, putera Bhatara Guru yang menjadi murid dan anak angkat Bhatara Bayu menurut pewayangan Jawa. Berkat keterampilannya menari, ia bersama kelompoknya, Siswa Amongbekso–penari keraton–sempat manggung di Belanda.

Hardjo, yang mulai menari sejak umur 14 tahun, datang atas undangan Departemen Kesenian Negeri Kincir Angin. Mereka ingin melihat pertunjukan tari klasik Jawa gaya Yogya. “Saya bersama rombongan penari keraton Yogyakarta mendatangi kota-kota besar di Belanda,” kenang Hardjo, ketika ditemui di rumahnya.

Malang, hobi dan karier menarinya pupus karena kecelakaan. Sebuah truk menyeruduk Hardjo saat berkendara di perempatan Sosrowijayan, Yogyakarta. Meski nyawanya tertolong, ia dirawat selama 35 hari di RS Bethesda, Yogyakarta. Kaki kirinya dipasang pen. Sejak insiden itu, ia berhenti total menari.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*