Artikel Terbaru

Budi Susanto Yohanes: Konduktor yang Mendunia

Budi Susanto Yohanes
[NN/Dok.Pribadi]
Budi Susanto Yohanes: Konduktor yang Mendunia
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comIa berhenti kuliah, menjadikan musik dunianya. Komposisi indah ia ciptakan. Beragam prestasi ia torehkan, mengharumkan nama Indonesia di ranah internasional.

Ia bagai ulat yang menjadi kepompong, lantas mengepakkan sayap menjadi kupu-kupu. Lahir di kota kecil di Jawa Timur, Budi Susanto Yohanes telah bermetamorfosa menjadi seorang konduktor dengan segudang prestasi internasional. Ia berhasil meraih cita-cita dan mimpinya.

Berawal dari sang ayah, yang seorang kepala sekolah sekaligus pelatih koor paroki di Blitar, gendang telinga Budi terbiasa dengan musik dan akrab dengan lembaran partitur. Ia mulai tertarik dan merasa senang membaca lembaran partitur milik sang ayah. Ketertarikan terhadap dunia musik makin ia tunjukkan melalui berbagai lomba menyanyi yang diikuti sejak kelas 4 sekolah dasar.

Merasa kurang puas dan belum berkembang, ia memutuskan hengkang dari kota kelahiran. Ia pergi ke Malang untuk menempuh pendidikan menengah atas, sembari setapak demi setapak mewujudkan mimpi dalam dunia musik.

Putus kuliah
Budi mengawali perjalanan musik secara profesional di dunia paduan suara dan mendirikan Gracioso Sonora Choir di Malang pada 1999. Melalui paduan suara ini, Budi mengikuti berbagai kejuaraan dan menorehkan prestasi. Ia juga banyak menghasilkan karya-karya original dalam komposisi musik. Budi, yang saat itu masih terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya Malang, juga melatih kelompok paduan suara yang beranggotakan para pengusaha. Dari situ, ia menghasilkan pendapatan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Tapi sayang, mendekati semester akhir kuliah, ia justru memutuskan meninggalkan kampus. “Ngambil jurusan elektro karena keinginan orangtua. Tapi karena keasikan melatih paduan suara dan bisa menghasilkan pendapatan sendiri, malah jadi keenakan,” kenang Budi sambil tertawa.

Setelah putus kuliah, Budi terjun penuh ke dalam dunia musik, terutama paduan suara. Ketekunan Budi membawa ia menjadi anggota Asian Youth Choir 2004-2010 di Jepang dan Filipina. Ia juga didaulat menjadi konduktor Paduan Suara Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sejak 2011. “Setiap minggu bolak-balik Malang-Surabaya. Rektor ITS saat itu merasa paduan suara bisa diandalkan untuk promosi kampus. Jadi setiap dua tahun sekali pasti pergi ke luar negeri,” kisah Budi.

Di tangan Budi, paduan suara yang ia pimpin ini juga meraih berbagai penghargaan internasional dari lomba bergengsi yang diikuti, seperti di Busan, Miltenberg, Cantonigros, Rimini, Debrecen, Torrevieja, dan Seghizzi. Pada 2012, hasil komposisinya bertajuk O Nata Lux berhasil menyabet peringkat pertama dalam Kompetisi Komposisi Paduan Suara Universitas Parahyangan Bandung.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*