Artikel Terbaru

Leonardus Egidius Joosten OFMCap: Misionaris Penjaga Budaya Batak

Leonardus Egidius Joosten OFMCap
[Hendra Maringga]
Leonardus Egidius Joosten OFMCap: Misionaris Penjaga Budaya Batak
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comMeski berasal dari Belanda, ia amat mencintai budaya Batak. Ia mendirikan museum dan menulis buku tentang Batak. Karyanya diganjar penghargaan dalam bidang sastra.

Beberapa lembar kertas buram dan sebuah pena setia berada di dalam sakunya. Kedua benda itu selalu dia bawa bila berkunjung ke stasi-stasi. Kebiasaan sederhana ini telah dilakukan Pastor Leonardus Egidius Joosten OFMCap sejak Maret 1971, kala menjalankan misi Ordo Kapusin Provinsi Belanda membantu wilayah penggembalaan Pater Yan van Mauriks OFMCap di Paroki St Paulus Onanrunggu, Samosir, Sumatera Utara. Dengan pengusaan bahasa Indonesia yang masih sangat terbatas, Pastor Leo menjalankan misi. Padahal umat di Paroki Onanrunggu masih banyak yang belum bisa berbahasa Indonesia. Dalam komunikasi keseharian, mereka masih menggunakan bahasa ibu, Batak Toba.

Pastor Leo segera menyadari keterbatasannya. Ia pun sadar bahwa budaya, termasuk bahasa bisa menjadi pintu masuk penyebaran Kabar Gembira. Namun menguasai bahasa Batak Toba tentu tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi ia dilahirkan dan besar di Negeri Kincir Angin, Belanda.

Enam bulan berjibaku di Samosir, Pastor Leo belum juga menguasai bahasa Batak Toba. Situasi itu sempat membuat ia kewalahan melayani umat yang berdatangan ke paroki. Apalagi ada umat yang sama sekali hanya tahu bahasa Batak Toba. “Saya berbahasa Indonesia, umat selalu menjawab dengan bahasa Batak Toba,” cerita Pastor Leo sembari tersenyum mengenang masa awal perutusan sebagai misionaris.

Kesulitan menguasai bahasa Batak Toba tak membuat Pastor Leo putus asa. Ketika mengemban perutusan di Paroki St Yohanes Pembaptis Pakkat, Agustus 1971-Agustus 1983, ia semakin bersemangat memperdalam bahasa Batak Toba. Yahopar Situmorang, salah satu umatnya, berkenan menjadi pengajar bahasa bagi Pastor Leo. “Dia tak hanya mengajari saya menuliskan dan mengucapkan suku kata, tetapi juga memberitahukan kata yang sinonim dengan kata itu, misal untuk mengatakan mulut biasa digunakan kata baba, padahal kata yang lebih sopan ialah pamangan. Atau ulu yang lebih sering digunakan untuk mengatakan kepala, padahal kata yang lebih sopan adalah simanjujung,” ujar Pastor Leo bersemangat.

Museum Batak
Setelah lebih dari 12 tahun berkarya di Pakkat, Pastor Leo kembali diutus ke Samosir. Kali ini ia mengemban tugas sebagai Pastor Paroki St Mikael Pangururan. Ia pun telah menguasai bahasa Batak Toba. Kecintaan dengan Tanah Batak semakin mengental dalam hatinya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*