Artikel Terbaru

Husain Nggule: Muslim, Perajut Salib IYD Manado

Husain Nggule (baju hijau kotak-kotak) saat menyambut Salib IYD Keuskupan Manado rajutannya di Paroki St Kristoforus Gorontalo.
[Stenly Ponga]
Husain Nggule: Muslim, Perajut Salib IYD Manado
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comPerajut salib IYD Keuskupan Manado yang berbahan rotan adalah seorang Muslim. Ia gembira bisa ambil bagian membuat salib. Baginya, salib ini membawa pesan bagaimana merajut dan merawat keberagaman.

Husain Nggule sedang merajut rotan saat Paris Melo tiba. Paris mendapat tugas dari Romo John Montolalu, Ketua Umum Panitia Indonesian Youth Day (IYD) 2016 Keuskupan Manado, mencarikan pengrajin rotan untuk membuat salib IYD. Husain –akrab disapa Oris–berhenti merajut. Keduanya pun tenggelam dalam diskusi. Oris mengangkat alis saat Paris memintanya untuk membuat salib dengan corpus dari bahan dasar rotan.

Setengah abad lebih, Oris menggeluti kerajinan berbahan dasar rotan dan kayu. Ia lahir dari keluarga pengrajin. Ayahnya adalah seorang pengrajin kenamaan. Sejak matanya melek, Oris sudah mengenal dunia kerajinan; merajut, mengayam rotan, membuat perabotan hingga mebel. Namun ia tak pernah membuat salib lengkap dengan corpus-nya. Pemilik tempat usaha “Mebel Rotan Sepakat” di Gorontalo ini bingung.

Berkaca pada nama tempat usaha Oris, mungkin ini yang membuat Paris yakin bahwa permintaannya tak akan ditolak. Paris menyodorkan beberapa contoh gambar salib tanpa menunggu Oris mengiyakan permintaannya. Oris mengamati contoh gambar salib itu. “Saya akan coba membuatnya,” ujar Oris dengan sedikit ragu.

Paris pulang dengan senang karena salib IYD akan segera jadi. Sedang Oris merenungi tantangan baru baginya. Melihat gambar salib dari Paris, terbersit dalam benak Oris bentuk salib IYD, dengan panjang satu setengah meter dan lebar satu meter.

Tiga Minggu
Suara adzan subuh menggema di seantero Gorontalo. Oris bangun pagi dan melaksanakan sholat subuh. Usai sarapan, ia memulai pembuatan salib. Oris berkali-kali mengamati gambar pemberian Paris. Lalu ia mulai merancang salib tersebut dengan rotan. Petang tiba, hari pertama berlalu, tapi kebingungan masih menyelimuti kepala Oris.

Hampir seminggu berselang, Paris kembali mendatangi Oris. Salib lengkap dengan corpus-nya terpampang di antara benda-benda kerajinan lainnya. “Setelah Pak Paris cek, tubuh Yesus terlalu besar, tidak seimbang dan tangan agak panjang sebelah,” ujar pria yang saat muda gemar olahraga sepak bola ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*