Artikel Terbaru

Serba Jelita Kolintang Santo Yakobus

Kolintang Santo Yakobus saat tampil dalam acara Lomba Kor Lansia Keuksupan Agung Jakarta.
[HID0UP/Stefanus P. Elu]
Serba Jelita Kolintang Santo Yakobus
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAlat musik kolintang merupakan alat musik khas Minahasa, Sulawesi Utara. Di Jakarta, orang muda Katolik memainkannya di Gereja untuk mengiringi Misa dan perlombaan-perlombaan bertaraf nasional.

Lagu We Are the Champions berkumandang di aula Sekolah St Maria Jakarta sebagai penutup rangkaian Lomba Kor Lansia Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), pertengahan Agustus lalu. Tapi jangan membayangkan lagu itu dinyanyikan oleh vokalis ganteng atau solis cantik. Lagu itu dikumandangkan dengan memainkan alat musik kolintang. Istimewanya, alat musik tradisional asal Minahasa, Sulawesi Utara itu dimainkan oleh kelompok perempuan muda asal Paroki St Yakobus Kelapa Gading, Jakarta Utara. Para jelita ini tergabung dalam sebuah grup musik, “Kolintang Santo Yakobus”.

Grup musik ini beranggotakan sembilan orang sesuai jumlah peran yang tersedia dalam permainan kolintang. Silvy Laurensia, salah satu anggota grup Kolintang Santo Yakobus menjelaskan, ada sembilan peran yang harus diampu saat memainkan alat musik ini. Peran yang dimaksud adalah dua orang memegang melodi, dua orang di pengiring, dua orang di banjo, satu orang di juk (penjaga tempo), satu orang di selo, dan satu lagi di bas.

Kolintang Yakobus
Kolintang Santo Yakobus sudah berusia kurang lebih 10 tahun. Sebagian besar personel grup sudah bermain bersama satu dekade. Selama ini ada anggota yang keluar karena kesibukan atau studi ke luar negeri. “Saya ikut main sejak SMP kelas III. Sekarang sudah kuliah semester akhir,” ujar Silvy. Waktu itu, Silvy dan rekan-rekannya adalah anak-anak Bina Iman Remaja Paroki St Yakobus Kelapa Gading. Guru bina iman mereka, John Puah, yang mengenalkan mereka pada Kolintang.

John bercerita, awal merintis grup ini karena desakan umat. Kebetulan sebagian umat tahu kalau John berasal dari Manado, Sulawesi Utara, dan cukup pandai memainkan kolintang. “Mereka tanya-tanya ke saya, kapan lagi main kolintang di gereja,” ujar John. Sebelum grup yang sekarang terbentuk, John pernah membuat grup kolintang di Paroki Kelapa Gading, sekitar 20 tahun sebelumnya. Hanya saja, grup itu tidak aktif karena selain kesibukan, alat-alatnya pun tak tahu entah ke mana saat pembongkaran gedung pastoral paroki. Waktu akan membuat grup yang sekarang, John kesulitan menyediakan alat-alat. Untung saja ada A. Sanjaya, seorang umat Paroki Kelapa Gading, yang mau membelikan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*