Artikel Terbaru

Muslim pun Menghormati Maria

[google image]
Muslim pun Menghormati Maria
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comKarena Maria dibebaskan dari segala noda dosa asal, apakah Maria mengalami kematian? Bukankah kematian adalah akibat dari dosa, sedangkan Maria tidak tersentuh dosa? Dalam dogma Maria diangkat ke surga, apakah tidak implisit dimaksudkan Maria mengalami kematian?
 
Theresia Maria Agusetyarini, Malang
 
Sampai abad ketiga, tidak ada rujukan apa pun yang meragukan kematian Maria. Juga tidak ada yang mengatakan apa pun tentang makam Maria. Menurut tradisi yang sangat kuat, Maria menjalani masa tuanya di Yerusalem dan meninggal di sana. Karena semua orang meninggal, termasuk Kristus, maka Maria juga mengalami kematian.
 
Sangat mungkin juga bahwa Maria pernah tinggal untuk beberapa saat di Efesus. Bahkan ada tradisi yang berpendapat bahwa rasul Yohanes hidup bersama Bunda Maria di Efesus sampai Bunda Maria meninggal juga di Efesus. Namun tradisi Maria meninggal di Efesus ini tidak begitu kuat seperti tradisi bahwa Maria meninggal di Yerusalem.
 
Santo Isidorus dari Sevilla (+ 636) adalah orang pertama yang meragukan kematian Maria. Keraguan tentang kematian Maria diungkapkan Santo Bonaventura dalam kaitan dengan terbebasnya Maria dari dosa asal: ”Kalau santa Perawan bebas dari dosa asal, maka dia tidak harus mengalami kematian. Karena itu, kematian Maria merupakan ketidakadilan atau dia mati untuk keselamatan umat manusia…. Kedua alasan itu salah dan tidak mungkin.”
 
Pada umumnya para teolog sependapat bahwa Maria tidak harus mati sebagai hukuman atas dosa, tetapi karena alasan lain yaitu menyesuaikan diri dengan Kristus. Maria pasti tidak mau ditempatkan lebih tinggi daripada Kristus, Puteranya. Jika Sang Sabda menerima keinsanian yang fana dan bisa mati, maka Maria pasti juga mengenakan keinsanian yang fana dan bisa mati. Kematian Maria bukanlah karena akibat dosa, karena Maria tidak terkena dosa. Kematian Maria terjadi karena keadaan keinsanian itu sendiri (pro conditione carnis). Yang dimaksudkan di sini adalah kematian fisik-biologis, bukan fisik-teologis (terpisah dari Allah).
 
Dalam surat Paus Pius XII Munificentissimus Deus yang menyatakan dogma Maria diangkat ke surga, sama sekali tidak dinyatakan dan tidak bisa ditafsirkan bahwa Maria mengalami kematian. Kalimat yang digunakan bersifat netral, yaitu ”sesudah menyelesaikan masa hidup duniawinya.” Dalam hal ini, tidak ditetapkan apakah Maria mengalami kematian atau tidak.
 
Teman saya yang beragama Islam mengatakan bahwa orang-orang Islam juga percaya bahwa Yesus dikandung secara ajaib oleh Maria. Mereka sangat menghormati Maryam (Maria). Kalau demikian, orang-orang Islam lebih menghormati Maria daripada saudari-saudara kita yang Kristen Protestan? Bagaimana pendapat Romo?
 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*