Artikel Terbaru

Tarif Misa

[izun.eu]
Tarif Misa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comBolehkah seorang imam memasang tarif ketika diminta mempersembahkan Misa? Bagaimana kalau umat miskin minta Misa? Bukankah Yesus siap melayani setiap waktu tanpa imbalan jasa?

Pertama, sumbangan sukarela umat beriman dalam bentuk uang yang diberikan kepada imam (Gereja) ketika meminta intensi Misa disebut stipendium. Stipendium adalah ungkapan pemberian diri umat kepada Gereja, semacam persembahan. Praksis memberi stipendium sudah lama dilakukan dalam Gereja, bahkan bisa dikatakan sejak awal kehidupan Gereja itu sendiri.

Stipendium dibedakan dari iura stolae, yaitu sumbangan umat beriman kepada imam (Gereja) yang melaksanakan perayaan sakramen-sakramen lain selain Ekaristi (misalnya, Baptis, Perkawinan, Pengurapan Orang Sakit) atau sakramentali (pemberkatan rumah, penutupan peti jenasah, dll). Salah kaprahnya, keduanya seringkali disamakan begitu saja sehingga semuanya disebut stipendium.

Kedua, ”sesuai dengan kebiasaan Gereja yang teruji, imam yang merayakan Misa atau berkonselebrasi boleh menerima stips yang dipersembahkan agar mengaplikasikan Misa untuk intensi tertentu” (Kan 945, # 1). Pemberian stipendium ini bukanlah suatu kewajiban yang mengikat, mengingat juga sifatnya sebagai persembahan. Karena itu, ”sangat dianjurkan agar para imam merayakan Misa untuk intensi umat beriman kristiani, terutama yang miskin, juga tanpa menerima stips” (Kan 945 # 2). Jadi, tindakan memasang tarif untuk merayakan Misatidak sesuai dengan semangat pelayanan Gereja. Hal ini ditegaskan secara eksplisit oleh Gereja: ”Pelayan sakramen tidak boleh menuntut apa-apa bagi pelayanannya selain persembahan (oblationes) yang telah ditetapkan oleh otoritas yang berwenang, tetapi selalu harus dijaga agar orang yang miskin jangan sampai tidak mendapat bantuan sakramen-sakramen karena kemiskinannya” (Kan 848).

Ketiga, tujuan persembahan umat dalam bentuk stipendium ialah ikut serta bertanggung jawab secara ekonomis atas kesejahteraan Gereja dan kehidupan para pelayannya (Kan 946). Semangat Injili hendaknya meresapi umat. ”Pekerja layak menerima upahnya” (Luk 10:7), dan ”Tuhan telah menetapkan, mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (1Kor 9:14). Namun, hak rasul ini tidak boleh dicampuradukkan dengan kepentingan atau keuntungan finansiil apa pun (PDV 29).

 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*