Artikel Terbaru

Kadar Kerinduan Tak Susut

Mewujudkan kerinduan: Pastor Johannes Indrakusuma OCarm di depan Pertapaan Shanti Bhuana Cikanyere, Jawa Barat, sebelum ia menjalani tahun sabatikalnya di Padang Gurun
[HIDUP/Maria Etty]
Kadar Kerinduan Tak Susut
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.com – Kesenyapan yang pekat merengkuh Padang Gurun Cikanyere, Jawa Barat. Dalam situasi demikian, Pastor Johannes Indrakusuma OCarm mencecap relasi yang karib dengan Sang Khalik.
 
Tahun 2007, imam asal Nganjuk, Jawa Timur ini menjalani tahun sabatikal sebagai pertapa. Bila pada umumnya imam-imam mengisi tahun sabatikal dengan pergi ke tempat-tempat tertentu, tidak begitu dengan imam yang akrab disapa Romo Johannes ini.
 
Ia memilih berdiam dalam sunyi di kawasan Cikanyere, tempat tinggalnya selama hampir dua puluh tahun terakhir ini, yang terletak di perbukitan nan hijau dengan ketinggian sekitar 950 meter di atas permukaan laut. Ia hanya lengser ke sebuah pondok di belakang Pertapaan Shanti Bhuana.
 
Sebagai pertapa, Romo Johannes beringsut dari kebisingan aktivitas. Ia hendak melebur dalam keheningan yang damai. ”Saya akan bertapa setahun penuh di sana,” ungkapnya seraya melepas senyum saat ditemui di beranda Pertapaan Shanti Bhuana, beberapa waktu lalu.
 
Keputusan ini membuat ia harus membatalkan sederet acara. Tetapi, hal itu tak menuai masalah. ”Sekarang saya punya banyak asisten. Biarlah mereka melayani umat yang datang,” tandas putra kesembilan dari sepuluh bersaudara yang menjadi yatim saat berusia 10 tahun ini.
 
Kembali bergolak
Keterpanaan Romo Johannes pada keheningan muncul seiring kelokan waktu. Keinginan itu mulai menyembul di hatinya sejak ia duduk di bangku Seminari Menengah di Lawang, Jawa Timur. Semula ia ingin masuk biara kontemplatif, tetapi sang rektor menilainya tak cocok.
 
Di novisiat, kerinduannya hidup dalam kesunyian kembali bergolak. Dengan tegas, pembimbing novisnya mengingatkan bahwa panggilannya bukan ke Trappist. Akhirnya, ia menghayati sepenuhnya hidup sebagai seorang Karmelit. ”Sebenarnya, tradisi Karmel juga menekankan hidup dalam kesunyian,” tambah Romo Johannes.
 
Batinnya melonjak, saat ia mengetahui ada satu pertapaan Karmel internasional di Wolfnitz, Austria. Tahun 1964, ketika Jenderal Karmelit Pastor Kilian Healev OCarm berkunjung ke Indonesia, ia menanyakan kemungkinannya menjadi pertapa. ”Beliau menjelaskan, kemungkinan menjadi pertapa baru terbuka bila saya sudah menjadi imam,” kenangnya.
 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*