Artikel Terbaru

Beato Francesco Maria Greco: Model Gembala Paroki di Zaman Modern

Beato Francesco Maria Greco dan anak-anak miskin di Acri.
[ilgazzettinodellacalabria.it]
Beato Francesco Maria Greco: Model Gembala Paroki di Zaman Modern
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comYohanes Paulus II menyebutnya sebagai model penggembalaan para Pastor Paroki di zaman modern. Ia memberi diri, terutama bagi umatnya yang paling kecil dan tersingkir.

Saat makan malam bersama sang ibu, Francesco Maria Greco berjanji kepada ibunya akan menjadi seorang imam. Janji ini disampaikan di saat ibunya sangat berharap seorang dari lima anaknya menjadi biarawan atau biarawati. Mendengar pengakuan jujur anaknya, sang ibu amat bahagia dan haru. Ia berpesan agar putranya tak membocorkan rahasia ini kepada siapapun, termasuk ayahnya. Ibunya takut, kalau-kalau niat ini digagalkan sang ayah. Maklum, ayahnya ingin Francesco juga meneruskan usaha dan mengikuti jejaknya.

Lewat bimbingan dan teladan hidup sang bunda, Francesco masuk seminari dan ditahbiskan menjadi imam. “Jadilah imam yang berhati tulus seperti Bunda Maria,” begitu pesan ibunya saat pentahbisan. Pesan itu dipegang Francesco hingga ajal menjemputnya pada 13 Januari 1931.

Impian Sang Bunda
Francesco adalah putra pasangan Raffaele Greco dan Concetta Pancaro. Ia lahir di Acri, 26 Juli 1857. Kini, daerah Acri termasuk wilayah yurisdiksi Keuskupan San Marco e Bisignano-Scalea, Privinsi Cosenza, Italia. Acri terkenal karena di sana terdapat destinasi ziarah, seperti Gereja St Maria Maggiore, Gereja St Francesco de Paolo, Gereja Annunziata serta makam Beato Angelo d’Acri (1669-1739).

Raffaele bekerja sebagai apoteker yang hidupnya bersahaja. Sejak merintis usahanya, ia bermimpi, kelak anak-anaknya bisa melanjutkan usahanya di bidang farmasi. Sayang, kemauannya berseberangan dengan Concetta. Impian Concetta, harus ada anak yang menjadi biarawan atau biarawati.

Karena itu, Concetta berjuang menanamkan kesalehan Kristiani pada lima anaknya sejak dini. Ia rajin mengajak mereka ikut Misa, bahkan meluangkan waktu menceritakan kisah-kisah para kudus. Ia yakin paling tidak anak sulungnya akan menjadi imam. Ternyata si sulung lebih memilih meneruskan usaha ayahnya.

Bagi Concetta, bila anak pertama tidak terpanggil, rasanya tak ada harapan lagi. Ia sama sekali tak mengharapkan anak keduanya, Francesco. Selain lemah dalam pelajaran, Francesco juga payah dalam kesehatan. Ia sering sakit-sakitan dan butuh perhatian lebih.

Kesedihan mendalam dialami Concetta. Tak tega melihat ibunya sedih, Francesco menghibur ibunya dengan kalimat, “Jangan sedih lagi, saya akan menjadi imam.” Concetta hanya tersenyum melihat tingkah lucu Francesco. Raffaele malah menggeleng-geleng kepala dan tak percaya perkataan anaknya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*