Artikel Terbaru

Fransiskus Wolo Tukan: Totalitas Karya untuk Umat dan Warga

Frans (tengah, baju batik) menghadiri buka puasa bersama di Polsek Bekasi Barat.
[Hutomo Umhardani/Komsos Paroki Kranji]
Fransiskus Wolo Tukan: Totalitas Karya untuk Umat dan Warga
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSelalu ada buah baik dari Tuhan untuk setiap ketulusan dalam berkarya. Buah-buah ketulusan itu ternyata tak hanya dicicipi sendiri; orang lain pun ikut merasakan.

Tahun 2006, pukul 23.00, segerombolan orang mengendarai motor, datang ke Gereja St Mikael, Kranji, Bekasi Barat. Kala itu, Paroki Kranji sedang membangun gereja. Hanya ada seorang petugas keamanan di lokasi. Komplotan itu memaksa security agar Kepala Paroki, Romo Yosep Djaga Dawan SVD, serta Ketua Pembangunan Gereja, Paulus Krisantono menemui mereka.

Penjelasan security bahwa Romo Yosef telah tidur dan Krisantono tak ada di gereja, tak mereka gubris. Gerombolan itu ngotot, dua orang itu harus menemui mereka. Kehabisan akal menghadapi mereka, security menghubungi Koordinator Keamanan Gereja, Fransiskus Wolo Tukan. Frans dari rumahnya yang hanya 50 meter dari pagar gereja bergegas ke lokasi.

Eh, siapa kalian? Mau apa datang malam-malam gini?” tanya Frans kepada mereka. “Bertemu pendeta kalian, atau Ketua Pembangunan Gereja ini,” kata seorang dari mereka yang berambut gondrong dengan suara tinggi. “Kita bicara di warteg di seberang jalan saja,” kata Frans berusaha mengendalikan suasana.

Siasat Frans ampuh, mereka balik badan setelah dijamu. “Terima kasih bos, kalau ada apa-apa di sini, beritahu kami,” kata pria berambut panjang tadi. Frans hanya tersenyum geli. Katanya, baru kali itu ada orang yang memanggilnya bos. Padahal, mereka tak tahu, jika Frans sedang bingung, dari mana uang agar dia bisa membayar makan-minum di warteg yang jumlahnya lebih dari Rp 300 ribu itu.

Tudingan Kristenisasi
Seiring waktu, beberapa orang dari gerombolan itu, termasuk jawaranya berteman baik dengan Frans. Tiap Natal dan Paskah mereka selalu dilibatkan untuk Menjaga parkir dan keamanan gereja. Begitu pula sebaliknya, jika mereka menggelar acara, Frans selalu diundang ke rumah mereka. Frans datang dengan menggandeng Romo dan Dewan Paroki.

Frans tak menampik, bukan hanya Gereja St Mikael saja yang keberadaannya membuat warga sekitar gereja risih dan antipati. Masyarakat juga sempat memandang sinis dan was-was terhadapnya. Mereka menuding, Frans pindah dari Pondok Bambu tahun 1996 dan ngontrak di RT 3/RW 8, Kelurahan Kranji sebagai upaya kristenisasi.

Dakwaan itu membuat pria kelahiran Ritaebang, Solor, Nusa Tenggara Timur, 20 Desember 1953 ini mengunci pergaulan dengan warga. Pulang kerja, Frans menutup pintu dan mendekam di dalam kontrakan. Ia keluar hanya untuk membeli makanan atau berangkat kerja. Ia tak pernah menyapa atau mengangkat wajah, meski berpapasan dengan warga.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*