Artikel Terbaru

Osbin Samosir: Aktor di Balik Persidangan DKPP

Osbin Samosir
[HIDUP/Christophorus Marimin]
Osbin Samosir: Aktor di Balik Persidangan DKPP
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comOsbin Samosir namanya. Ia berasal dari Pulau Samosir di Danau Toba, Sumatera Utara. Ia lahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara. Osbin, demikian ia disapa, lahir dari rahim pasangan Togadongan Samosir dan Holmaria Hilaria Harianja. Kedua orangtuanya petani. Mereka hidup sederhana.

Kehidupan kampung yang sederhana membuat cita-cita Osbin pun sederhana. Ia ingin menjadi guru dan Sintua, tokoh Gereja yang menjadi ketua sebuah lingkungan atau komunitas umat. Setelah lulus sekolah menengah pertama, Osbin telah berencana masuk ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG). “Kalau sudah lulus SPG, menjadi guru SD di kampung dan menggantikan Bapak menjadi Sintua,” ucap Osbin dengan logat khas Batak.

Tak disangka, sang ayah berkehendak lain. Osbin dipaksa masuk seminari. Osbin sebenarnya tak berminat masuk seminari. Namun kata-kata orangtua mesti ia laksanakan. Osbin pun menjadi seminaris di Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar. “Justru hidup saya banyak berubah setelah masuk seminari,” ujar pria kelahiran 4 Mei 1973 ini.

Osbin menjalani pendidikan di seminari dengan tekun. Ia juga mengasah kemampuan berorganisasi dan menulis artikel. Rupanya cinta juga datang karena terbiasa. Setelah lulus seminari menengah, Osbin memutuskan masuk biara Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum. Osbin mantap mengenakan jubah coklat bertali putih. Ia melakoni formasi sebagai seorang Fransiskan Kapusin.

Kali ini Tuhanlah yang berkehendak lain. Ketika sedang menjalani studi di STFT St Yohanes Pematangsiantar, ia menerima kabar duka. Ayahnya meninggal dunia. Tak lama berselang, hanya dalam hitungan bulan, sang ibu menyusul. “Saat itu hidup saya sungguh tergoncang,” ucapnya. Osbin pun memilih menanggalkan jubah.

Setelah mengantongi ijazah S-1, Osbin memutuskan hengkang dari kampung. Ia merantau ke Jakarta. “Bagi saya saat itu, Jakarta adalah pusat kehidupan. Saya juga ingin meninggalkan kampung,” ucap suami Gorreti Manurung ini.

Maret 2000, ia menginjakkan kaki di Jakarta. Namun memulai kehidupan di kota besar bukanlah hal yang mudah. Meski memegang gelar sarjana, Osbin pontang-panting hidup di Jakarta. Ia memang sempat bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat. Tapi penghasilannya tentu tak mencukupi untuk hidup di kota besar. Agar bisa terus makan setiap hari, dengan modal suara tenor, Osbin mengamen di bus Mayasari P50, dari Blok M menuju Tol Barat Bekasi. “Lumayan, sekali mengamen bisa dapat 50 ribu, bisa beli makan,” kisah Osbin. Bahkan tak jarang ia harus menginap di emperan toko di kawasan Blok M, lantaran tak ada ongkos pulang.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*