Artikel Terbaru

Majalah Merasul Paroki Sathora: Menginspirasi Umat Lewat Majalah

Para awak Majalah Merasul dalam malam puncak penghargaan INMI Awards Mei 2016.
[Dok.Matheus Haripoerwanto]
Majalah Merasul Paroki Sathora: Menginspirasi Umat Lewat Majalah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMeski super sibuk, para redaktur Merasul tetap berusaha mewartakan kabar gembira dan menginspirasi umat. Tahun ini usaha mereka diganjar INMI Awards.

Dengan mimik heran, pelawak Stand Up Comedy Mohamad Ali Sidik Zamzami atau sering di kenal Mo Sidik berceloteh kepada Albertus Joko Tri Pranoto, “Pak udah di sini aja sama saya, daripada naik-turun panggung.” Hal itu terjadi pada malam penganugerahan Inter Mirifica (INMI) Awards 2016, awal Mei lalu. Malam itu Mo Sidik yang menjadi salah satu pembawa acara merasa heran lantaran sudah lima kali nama Merasul dipanggil seba gai salah satu nominasi INMI Awards 2016. Setiap kali dipanggil Albert harus naik ke panggung.

Di puncak malam penganugerahan itu, akhirnya Majalah Merasul merebut predikat Best of the Best INMI Awards 2016. Merasul yang digawangi Albert, dkk dari Paroki St Thomas Rasul (Sathora), Bojong Indah, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) juga dinominasikan di tujuh kategori penghargaan, dan berhasil memenangkan kategori Berita Terbaik serta Artikel Feature Terbaik. Prestasi yang membanggakan mengingat usia yang masih muda.

Merasul terbentuk dan terbit pertama kali pada 16 Juni 2013. Saat kelahirannya, Uskup KAJ Mgr Ignatius Suharyo kebetulan sedang melawat ke Paroki Sathora. Bayi Merasul pun mendapat berkat dari Sang Uskup, dan pada hari itu juga Mgr Suharyo membubuhkan tanda tangannya di prasasti kelahiran media tersebut.

Berkat Uskup KAJ itu tak serta merta menjadikan Merasul langsung tumbuh. Sejak menyapa umat pada hari kelahirannya, Merasul sempat “hilang”. Mereka baru meluncurkan edisi keduanya pada Paskah 2014. Sejak itu, Albert dan timnya berusaha supaya Merasul bisa hadir rutin menyapa umat. Sejak saat itu setiap dua bulan sekali Merasul bisa terbit dan menginspirasi umat. Hasilnya memuaskan, Merasul dicetak 3.500 eksemplar setiap kali terbit dan dibagikan gratis kepada umat Paroki Sathora.

Bergelayut Malam
Dalam usahanya untuk terbit rutin, para kru Merasul bertemu setiap Rabu malam. Setiap kru memiliki kesi bukan masing-masing, ada yang menggantang ilmu di bangku kuliah, ada yang bekerja sebagai karyawan, konsultan, dokter hingga pengusaha.

Rentang usia awak Merasul berkisar pada 23-72 tahun. Yang tertua adalah Ekatanya A, seorang pengusaha furniture yang menuli feature dan fiksi di Merasul. Selain rutin bekerja, para kru Merasul juga memiliki kegiatan sendiri di lingkungan dan paroki bahkan menjabat sebagai ketua seksi di paroki dan ketua seksi lingkungan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*