Artikel Terbaru

Fobia

Fobia
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Fobia adalah rasa takut yang sangat kuat terhadap sesuatu hal. Ada yang takut ketinggian (altofobia), takut ruang sempit (claustrofobia), atau takut kepada binatang tertentu. Penderita fobia akan berusaha menghindari hal-hal yang ditakuti, dan rasa takut ini menimbulkan reaksi yang tak terkontrol serta tidak rasional, yang seringkali tak terkait dengan bahaya yang ditimbulkan situasi tersebut. Fobia bisa disebabkan trauma atau pengalaman kurang menyenangkan dengan benda, binatang, atau ketika berada dalam situasi tertentu. Fobia juga bisa di sebabkan hal-hal yang ditakuti tersebut secara tidak langsung terkait dengan kecemasan lain yang lebih mendasar, seperti kekhawatiran akan kehilangan atau ancaman terhadap rasa aman.

Fobia bisa dialami individu, bisa juga menjangkiti masyarakat luas. Setelah peristiwa traumatik 9/11, yakni penghancuran gedung kembar oleh teroris berkedok jihad, muncul fobia terhadap Islam. Ada yang ketakutan begitu melihat perempuan yang berkerudung. Ada yang menjadi marah dan benci. Pernyataan salah satu kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump bahwa Amerika Serikat menolak imigran beragama Islam menunjukkan gejala Islamofobia.

Jika fobia diadopsi dan dinormalisasi menjadi kebijakan negara atau dibenarkan masyarakat akan berakibat mengerikan. Di Salem, Amerika Serikat, pada 1692, terjadi kecemasan massal atau histeria terhadap tukang sihir, seperti fobia dukun santet di Indonesia pada 1990-an. Ratusan orang dihukum mati karena tuduhan tetangga atau majikan atau pengakuan terhukum lain. Kebencian terhadap orang Yahudi pada masa pemerintahan Hitler di Jerman berujung pembantaian massal.

Generalisasi, pikiran negatif, dan kekhawatiran berlebihan menciptakan monster yang menakutkan. Di Indonesia, meskipun semua negara komunis sudah lenyap dari muka bumi dan kapitalisme global bertakhta di mana-mana, masih kuat fobia komunisme. Di masa keterbukaan pasca Reformasi diskusi karya sastra di festival internasional dan pameran seni dilarang hanya karena menyentuh peristiwa 1965. Belakangan muncul fobia LGBT, individu dengan orientasi seksual non-heteroseksual di anggap bisa menularkan kecenderungan ini kepada generasi muda, dan bahkan melenyapkan spesies manusia dari muka bumi. Padahal pada zaman nenek kakek, waria, banci, warok, gemblak adalah kenyataan sosial yang biasa. Tidak ada yang takut ketularan. Masyarakat Bugis malah mengenal lima jenis manusia; perempuan yang feminin dan yang maskulin, laki-laki maskulin dan feminin, serta androgini.

Yang sudah jelas cepat menular adalah virus ketakutan. Ketakutan satu orang diamplifikasi yang lain. Penyebabnya adalah perasaan terancam. Ketika orientasi seksual dikelompokkan dengan istilah asing, dia sosiasikan dengan gaya hidup kosmopolitan dan hedonisme kelas menengah atas, serta masuk ke media sosial, maka sosoknya jadi gaul dan mengusik. Orangtua, organisasi pelindung anak dan penegak moral ramai bersekutu. Padahal kekerasan terhadap anak banyak dilakukan masyarakat yang orientasi seksualnya dianggap “normal”, dan bahkan oleh orangtua sendiri. Kejahatan memang bukan terkait dengan orientasi seksual, tetapi pada orientasi nafsu, kemelekatan duniawi, dan kekuasaan. Itulah pesan Sodom dan Gomorah yang seringkali salah dipahami.

Fobia adalah gangguan mental yang bisa diatasi asal ada kesadaran dan kemauan mencari akar rasa tidak aman. Realitas dicermati dengan akal sehat. Rasa takut yang wajar diperlukan untuk hidup. Jika berlebihan, jangan-jangan tanda krisis iman. Dua orang paus telah menunjukkan cara mengalahkan kekhawatiran dengan iman dan kasih. Setelah sembuh dari luka tembakan teroris, alih-alih membentengi diri, Paus Yohannes Paulus II justru menemui dan berdamai dengan si musuh. Paus Fransiskus dengan rendah hati tapi penuh kharisma menolak menghakimi. Agar dunia penuh harapan, yang perlu diubah bukan orientasi seksual, tapi hati yang rawan fobia.

Melani Budianta

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 22 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 29 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*