Artikel Terbaru

Kristalisasi Semangat Partisipasi

Romo H. Sri Danto Aribowo bersama anak-anak SD St Maria Jakarta saat launching RMP.
[NN/Dok.SD Santa Maria]
Kristalisasi Semangat Partisipasi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSemangat Pancasila menjiwai Rosario Merah Putih (RMP), sejalan dengan semangat Gereja Universal dalam Tahun Suci Kerahiman Ilahi.

Paus Pius IX (1792-1878) pernah berkata, “Berikan kepada saya pasukan yang mendaraskan Rosario dan saya akan menaklukkan dunia.” Hal senada diungkapkan Uskup Agung Jakarta (KAJ) Mgr Ignatius Suharyo, dalam acara temu pastores di Aula Katedral, April 2016. Di hadapan sekitar 300 imam, ia berkata, “Rosario adalah sarana ungkapan iman yang nyata untuk penebusan dosa.”

Dalam arti ini, RMP muncul sebagai gerakan bersama “Mengamalkan Pancasila” sesuai Arah Dasar (Ardas) KAJ 2016-2020. Terkait hal ini, HIDUP mewawancarai Ketua Komisi Liturgi KAJ, Romo H. Sri Danto Aribowo Nataantaka. Berikut petikannya:

Darimana ide munculnya RMP?

RMP adalah karya KAJ bukan karya komisi manapun. Dewan Karya Pastoral (DKP) membentuk panitia sejak awal renstra ditutup, Oktober 2015. Panitia berperan dalam Ardas KAJ dan sebagian menjadi panitia launching RMP. Harapan Mgr Suharyo, ada sesuatu yang lain dalam Tahun Kudus Kerahiman Allah, yang tak hanya bernuansa rohani, tapi harus memasyarakat. Hal ini sesuai Ardas “Mengamalkan Pancasila”. Jadi RMP lahir dari gerakan Ardas KAJ dalam refleksi Gereja Universal lewat Tahun Suci Kerahiman Allah.

Ada keprihatinan apa hingga KAJ membuat gerakan RMP?

DKP mengamati, kadang umat bingung dalam tiap gerakan yang berhubungan dengan kebijakan-kebijakan Gereja. Misal, Ardas Tahun Ekaristi (2011-2012), Tahun Iman (2012-2013), dst, umat sering bertanya, “Kita mau buat apa di tahun itu?” Inilah situasi yang membuat KAJ perlu gerakan nyata yang tidak mengambang.

Berarti RMP semacam gerakan kompromistis dengan Tahun Suci Kerahiman Allah?

Benar, ini gerakan kompromistis meskipun luar biasa. Ada perpaduan menarik antara refleksi Gereja Universal dan Gereja Partikular. Di satu pihak, kita berada dalam lingkaran Gereja Universal; di pihak lain, KAJ adalah Gereja Partikular yang mengakomodir aspirasi umat demi menyelaraskan. Agar selaras, semangat yang diusung Gereja Universal harus menjiwai Gereja Partikular. Dan, KAJ menjadi barometer untuk Gereja-gereja Lokal. Maka semangat pertobatan dalam Tahun Suci Kerahiman Allah tetap dalam kerangka Ardas yang bernuansa Pancasila.

Apakah RMP adalah gerakan pertama yang bernuansa Pancasila?

Baru kali ini dalam sejarah, Pancasila dimasukkan dalam Ardas. Sebelumnya dalam rapat pastores di Villa Renata tahun 2014, yang muncul adalah Ajaran Sosial Gereja (ASG). Tapi para imam sadar, ketika bertanya pada umat, lebih mengerti ASG atau Pancasila? Umat akan menjawab Pancasila. Bagi saya, value dalam Ardas termaktub dalam Pancasila.

Apa hubungan mendoakan bangsa dengan RMP?

Ada banyak ide yang muncul dalam pertemuan bersama Bapa Uskup, yang paling mudah adalah doa. Doa menjadi penggerak umat. Doa seperti apa? Doa yang sifatnya devosional. Litbang KAJ pada Prapaskah 2015 membuat survei soal semangat doa umat KAJ. Hasilnya, umat lebih tertarik berdoa devosi seperti Rosario. Lagi-lagi, RMP hanyalah medium untuk orang berdoa sekaligus tanda KAJ mau mempraktikkan dua hal tadi, semangat Gereja Universal dan Partikular dengan tujuan pertobatan.

Apa refleksi Romo soal RMP?

Pertama, umat diajak berpikir keluar dan jangan ekslusif. Kita hidup bersama dalam masyarakat, tapi coba perhatikan berapa banyak orang Katolik mau jadi RT, duduk di DPR, atau mau jadi gubernur. Bukan soal minoritas, tapi kehadiran kita menjadi kesaksian bagi mayoritas. Tentu etos kerja kita harus berkualitas. Kedua, RMP memotivasi umat berdoa bagi bangsa dan negara. Tak sekadar numpang di Indonesia, tapi lupa identitas kebangsaannya. Ketiga, doa saja tak cukup, butuh amal kasih. Keempat, gerakan ini jangan sampai hanya show belaka. Penanda ini perlu dilanjutkan dengan partisipasi umat, seperti tidak korupsi uang, money politic, dsb.

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 21 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 22 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*