Artikel Terbaru

Selalu Dipanggil Bodoh oleh Ibu

[google image]
Selalu Dipanggil Bodoh oleh Ibu
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSelamat siang Romo Erwin. Salam kenal saya Reynata, 25 tahun, dari Bekasi. Saya merasa akhir-akhir ini malas tinggal di rumah karena selalu cek-cok dengan ibu. Hal-hal kecil saja bisa dipersoalkan menjadi masalah besar. Meski demikian, hal itu tidak menjadi masalah bagi saya, toh sebagai anak harus tunduk pada orangtua. Namun, tiap kali ibu marah, saya selalu dibilang bodoh dan kata-kata “kebun binatang” ditumpahkan pada saya. Padahal di sekolah, saya tak bodoh, bahkan selalu juara. Saya lahir bukan di kebun binatang sehingga mengapa harus dipanggil seperti itu. Kira-kira apa yang perlu saya buat sebagai anak untuk mengurangi pemakaian kata-kata tidak pantas dari orangtua untuk anaknya? Terimakasih.

Reynata, Bekasi

Reynata yang sedang bingung, terima kasih atas pertanyaan Anda. Sebagai anak, tentu Anda merasa sakit hati dan barangkali marah pada ibu yang memanggil Anda dengan sembarangan. Saya tidak ingin mengingkari bahwa perkataan ibu Anda itu sesuatu yang buruk dan tak pantas. Meskipun orangtua lebih tua usianya, tetapi panggilan yang pantas wajib diberikan pada anak, bukan justru merendahkan atau kasar. Saya ikut prihatin.

Sebagai anak, tentu Anda tidak dapat mengingkari bahwa beliau adalah ibu Anda. Tetapi sebagai manusia, Anda boleh mengomentari hal ini sebagai sesuatu yang menurut saya masih sangat bisa diperbaiki. Komentar yang saya maksudkan adalah semacam cara berkomunikasi dengan orangtua yang tinggal serumah dengan Anda. Jangan takut mengatakan kebenaran, asalkan kita menyampaikannya dengan tepat dan pantas sebagai anak. Komentar selalu didasarkan pada apa yang menurut pandangan umum dianggap baik dan benar.

Saya merasa prihatin mengapa di zaman seperti sekarang kata-kata seperti itu masih dipakai untuk sesama. Keprihatinan saya lebih pada bagaimana orangtua Anda membiasakan dirinya memanggil Anda dengan kasar, seolah-olah Anda memang pantas menerimanya, karena kesalahan yang dibuat. Seandainya pun Anda seorang yang secara akademis kurang beruntung, tak ada orang yang berhak mengatakan Anda “bodoh”, karena itu bertentangan dengan etika dalam keluarga yang seharusnya saling menghormati.

Apakah Anda mempunyai kesalahan besar pada ibu Anda? Apakah Anda memang membiasakan diri dipanggil demikian oleh kebanyakan orang di sekeliling dan di keluarga Anda? Apakah Anda memang orang yang membiarkan diri dipanggil demikian?Atau semua yang saya tanyakan itu tidak benar? Jika demikian, Anda sendiri harus memperjuangkan kehormatan secara wajar di hadapan ibu Anda dan keluarga Anda pada umumnya. Jika Anda merasa ingin merespon cara Ibu Anda, saya kira itu juga boleh, asalkan dengan cara yang wajar, tidak dengan balasan yang sama dengan cara ibu Anda.

Anda boleh menyampaikan perasaan Anda dengan tegas dan emosi yang wajar. Jika masih berkeras, Anda boleh menyampaikan pada ayah Anda atau siapapun di dalam rumah. Jika mereka semua diam, Anda berhak menentukan sikap untuk membela hak Anda atas penghormatan yang wajar dari seluruh keluarga. Barangkali memang keluarga Anda mempunyai kebiasaan buruk yang pantas diperbaiki.

Mengenai ketundukan, anak tidak harus mengikuti apapun kehendak orangtua. Sebagai manusia dewasa, Anda berhak menentukan pilihan dan jalan hidup serta keputusan-keputusan pribadi Anda. Anda bukan anak kecil lagi. Masalahnya bukan di situ saja, barangkali Anda selama ini “menyerahkan diri” Anda kepada ibu Anda. Anda membiarkan diri diperlakukan demikian sehingga beliau juga terus menerus bersikap sama. Perangi dengan tanggapan yang jujur, wajar dan sekaligus berani.

Menghormati orangtua tidak hanya dengan mengikuti semua kehendak dan perlakuan mereka, tapi juga dengan komunikasi yang baik satu sama lain. Semoga diskusi ini membuka wawasan Anda dalam berelasi dengan orangtua dan tidak terjebak dalam penghormatan yang makin melanjutkan kebiasaan buruk dalam keluarga. Semoga orangtua Anda sadar, anaknya berhak atas nama baik dan panggilan yang wajar sebagai manusia.

Alexander Erwin Santoso MSF

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 21 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 22 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*