Artikel Terbaru

Bunda Maria, Inspirasi Karya Seni

Bunda Maria, Inspirasi Karya Seni
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comBunda Maria menginspirasi para seniman Indonesia dalam menciptakan karya seni. Maria digambarkan sebagai seorang ibu yang welas asih, dan setia menemani Sang Putra.

Seniman keramik, Fransiskus Maria Widayanto, dikenal dengan nama F. Widayanto mulai membuat karya-karya religius, pada 2001. Pilihan ini berawal dari pengalamannya berziarah ke Lourdes. Yanto, sapaannya, melihat beraneka ragam karya seni rohani. Pengalaman ini mendorongnya untuk membuat karya religius Katolik, khususnya patung Maria.

Yanto mengaku, salah satu inspirasi ia membuat patung Maria berasal dari patung-patung khas Eropa, seperti di Lourdes. “Patung-patung Eropa dibuat dengan penuh perasaan. Dari bahasa tubuhnya, mimik dan anatomi sungguh luar biasa, dengan lingkungan juga bagus. Tentu saja teknik mereka unggul karena patungnya terbuat dari batu marmer. Kalau melihat itu saya merasa tidak ada apa-apanya sama sekali, ada keinginan untuk selalu belajar,” paparnya. Ia juga menggali inspirasi dengan membaca buku-buku sebagai referensi dan mencari informasi di internet.

Lulusan S-1 Jurusan Keramik, Fakultas Seni Rupa dan Disain, Institut Teknologi Bandung (1981) ini mengungkapkan, apapun karya seni yang ia buat, termasuk karya religius, adalah cerminan Indonesia dan dirinya. “Produk-produk saya, apapun harus mencerminkan budaya Indonesia. Inspirasinya boleh saja datang dari luar, dari Eropa, India, China dan lain-lain, tetapi keluarnya harus Widayanto Indonesia,” tandasnya. Menurutnya, belajar bisa dilakukan dimana saja. “Berlayarlah ke negeri seberang untuk mencari ilmu, tetapi harus kembali,” imbuh laki-laki kelahiran Jakarta, 23 Januari 1953 ini.

Khas Indonesia
Pada 2006, salah satu karya Yanto berupa relief mozaik Bunda Maria dipasang di selasar Basilika Kabar Sukacita (Basilika Annunciation) Nazareth. Di tempat itu juga terpasang mozaik Maria dengan model khas dari berbagai negara seperti Mesir, China, Meksiko dan lain-lain.

Di tahun yang sama, Yanto menggarap patung Maria menggendong Yesus gaya Papua. Karya yang ia sebut “Noukai Ibu Maria” ini dipajang di Gereja Paroki Kristus Sahabat Kita Nabire, Papua, Keuskupan Timika. “Patung harus mencerminkan budaya lokal dengan gaya wanita Irian sedang menggendong anak. Bayi Yesus harus keriting, Marianya juga tapi dengan rambut agak tertutup kerudung. Model seperti itu rupanya bisa diterima di tempat itu,” ujar laki-laki yang mendirikan Studio Keramik “F. Widayanto Clay Statement” di Tapos, Bogor, Jawa Barat, tahun 1990 ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*