Artikel Terbaru

A. Bagus Laksana SJ: Maria: Keindahan yang Sempurna

Mozaik Maria karya F. Widayanto
[NN/Dok.Pribadi]
A. Bagus Laksana SJ: Maria: Keindahan yang Sempurna
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comKarya seni religius diciptakan supaya membantu orang mengalami misteri Allah. Karya Seni Maria harus mengantar kita dalam hubungan dengan Maria dan dekat dengan Allah.

Di luar Basilika Anunsiasi di Nazareth, terpajang puluhan lukisan Bunda Maria dari pelbagai negara, mulai dari Mesir sampai Cina. Dari Indonesia pun ada: Maria berdiri dan berpakaian kebaya, dengan posisi kedua tangan terkatup di dada. Saya sendiri lebih suka lukisan yang dari Spanyol: Maria duduk memangku bayi Yesus dan dikelilingi oleh banyak orang, termasuk anak-anak yang membawa bunga dan roti.

Lukisan-lukisan Maria di Basilika itu memang mengesan dan unik. Namun, rasanya lukisan-lukisan itu akan lebih punya daya dan makna rohani bila berada di tempat asalnya, di tempat di mana Maria dipuja dengan cara yang khas oleh banyak orang, dan dalam lingkungan budaya yang melahirkan lukisan itu. Di tempat-tempat itu orang akan datang bukan untuk melihat “koleksi” lukisan atau patung Maria, melainkan untuk mendapatkan pengalaman yang lebih mendalam dan rohaniah. Dalam hal ini bisa dimengerti nasehat Sacrosanctum Concilium, Konstitusi Liturgi Vatikan II, agar jumlah lukisan atau patung dalam rumah ibadah tidak terlalu banyak. Tempat ibadah bukanlah museum untuk menyimpan koleksi karya seni religius.

Seidnaya
Selama tinggal di Damaskus, Suriah di tahun 2008, saya sering berziarah ke kota kecil di pegunungan, tak jauh dari perbatasan Suriah dan Lebanon, bernama Seidnaya. Di situ ada tempat ziarah Maria yang amat terkenal, yaitu Bunda Maria Seidnaya, yang terletak dalam kompleks biara para suster Gereja Ortodoks Yunani. Pusat dari tempat ziarah Seidnaya adalah sebuah ikon Bunda Maria. Ikon ini kelihatan sederhana dan kecil, dan di tempatkan di dalam ruang mungil yang agak gelap dan hanya diterangi lilin. Peziarah yang datang harus membungkuk untuk melewati pintu masuk.

Mereka datang ke situ bukan sekadar untuk mengagumi sebuah karya seni, melainkan sebuah kehadiran Ilahi lewat karya seni itu dan lewat banyak hal yang ada di sekitar penempatan karya seni itu, termasuk sejarahnya. Konon, ikon itu dilukis sendiri oleh St Lukas, dan sudah berabad-abad berada di biara itu. Ikon ini termasuk karya seni tentang Maria yang paling awal dalam sejarah. Tak terhitung lagi jumlah peziarah yang hatinya telah tersentuh. Semua pengalaman peziarah ini memberi makna rohani pada ikon tersebut. Seandainya ikon itu ditempatkan di sebuah museum, daya dan getar rohaninya akan sangat berbeda.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*