Artikel Terbaru

Van Lith, Bapak Pendidikan Jawa

Para penerima Gelar Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi di Gedung Teater Jakarta TIM.
[NN/Dok. Kemendikbud]
Van Lith, Bapak Pendidikan Jawa
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comPemerintah memberi Satyalancana Kebudayaan kepada Romo Franciscus Georgius Josephus Van Lith SJ. Romo Van Lith dinilai berperan besar memajukan pendidikan di Jawa.

Setiap tahun Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengadakan Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi. Acara ini sebagai bentuk apresiasi terhadap insan-insan atau lembaga yang mendedikasikan hidup bagi pembangunan kebudayaan Indonesia. Penghargaan ini disebut Gelar Tanda Kehormatan Presiden RI.

Tahun ini, penghargaan diberikan kepada 14 tokoh, empat di antaranya mendapat Bintang Budaya Parama Dharma, salah satunya diterima Martha Tilaar. Sementara 10 yang lain diganjar penghargaan Satyalancana Kebudayaan. Mereka berasal dari berbagai bidang kebudayaan, mulai dari sastra, film, teater, pelestari jamu, seni lukis hingga filologi.

Salah satu dari 14 tokoh penerima Satyalancana Kebudayaan adalah mendiang Romo Franciscus Georgius Josephus Van Lith SJ (1863-1926). Penghargaan diberikan di Gedung Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki Jakarta akhir September kemarin. Romo Van Lith diwakilkan oleh Romo Gregorius Budi Subanar SJ dan Bruder Agustinus Giwal Santoso FIC.

Pendidikan Pribumi
Romo Van Lith menerima penghargaan Satyalancana Kebudayaan bersama Hasan Basri, Suparto Brata, Soekarno M. Noor, Aminah Cendrakasih, Agustinus Kasim Achmad, Slamet Abduk Sjukur, Munasia Daeng Jinne, Lauw Ping Nio (Nyonya Meneer), dan Kartono Yudhokusumo. Romo Van Lith mendapatkan gelar ini karena perannya sebagai perintis pendidikan bagi masyarakat pribumi di Jawa pada masa penjajahan Hindia Belanda.

Menurut Romo Banar, kontribusi terbesar Romo Van Lith adalah apresiasinya yang sangat tinggi kepada budaya lokal. Sejak tiba di Jawa, khususnya Semarang pada 1896, ia langsung mempelajari kebudayaan Jawa. Ia belajar bahasa lokal sebagai syarat bersosialisasi. Pribadinya bisa digambarkan seperti Manjing Ajur Ajer, ‘menyatu dan tidak berjarak’. “Romo Van Lith menghayati dalam-dalam kehadirannya di tengah masyarakat pribumi Jawa,” ujar Romo Banar.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*