Artikel Terbaru

Pencetak Guru Kontekstual

Nadjamuddin Ramly, Prof F.X. Mudji Sutrisno SJ
[NN/Dok. Pribadi, HIDUP/Yanuari Marwanto]
Pencetak Guru Kontekstual
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comKementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI memilih Romo Van Lith SJ sebagai salah satu penerima Satyalencana Kebudayaan. Ia dihargai karena jasanya bagi pendidikan kaum pribumi.

Tujuh tahun terakhir, Profesor Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno SJ tergabung dalam tim juri penghargaan Budaya Parama Dharma dan Satyalencana Kebudayaan. Pada tahun ini, Romo Mudji bersama tiga akademisi dan budayawan terpilih, yaitu Edi Sedyawati, Wagiono Sunarto, dan Azyumardi Azra memilih Romo Franciscus Georgius Josephus van Lith SJ sebagai penerima penghargaan Satyalencana Kebudayaan. Sebelumnya penghargaan serupa diberikan kepada Romo Adolf J. Heuken SJ dan Romo Petrus Josephus Zoetmulder SJ. Sementara Romo Franz Magnis-Suseno SJ menerima Bintang Mahaputra Utama setahun silam.

Saat ditemui di Kolese Kanisius Jakarta pekan lalu, Romo Mudji mengatakan, Romo Van Lith layak menerima penghargaan itu karena jasanya merintis pendidikan guru yang kontekstual untuk masyarakat pribumi Jawa. Bahkan sebelum mendirikan sekolah ia menghabiskan waktu sembilan tahun untuk mempelajari bahasa dan budaya Jawa terlebih dahulu. “Dia melihat bahwa di masa itu guru dipandang sebagai tokoh masyarakat. Maka ia mencari calon-calon guru untuk dididik dengan sistem konvic. Jadi metode disiplin dan ilmiah ikut pola Barat, sementara hidup bersama meniru kebudayaan Jawa,” imbuh Romo Mudji.

Romo Mudji menceritakan bahwa ayahnya juga pernah mencicipi pendidikan ala Romo Van Lith. Ia pernah mendapat cerita dari bapaknya bahwa Romo Van Lith kerap memberi waktu kepada anak-anak asrama untuk pergi ke pasar membeli makanan atau menonton wayang. Ia mau menunjukkan bahwa pendidikan ilmiah tak harus membuat para calon guru tercerabut dari akar budaya.

Selain itu, Romo Van Lith juga menunjukkan sikap politik yang berlawanan dengan kolonial Belanda. Dalam sebuah surat kepada pemerintah Kolonial, Romo Van Lith memberi peringatan agar mereka tak merendahkan masyarakat pribumi. Ia mau berdialog dengan pemerintah Kolonial, tapi tetap mengkritik model penjajahan. “Ia juga bergabung ke Serikat Islam wilayah Banten. Ini menunjukkan bahwa ia tidak antipati terhadap politik, tetapi politik harus dijalankan secara seimbang,” ujar Romo Mudji. Senada dengan itu, Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud Nadjamuddin Ramly mengatakan, Romo Van Lith terpilih karena peran besarnya memajukan pendidikan kaum pribumi di Jawa. Ia menjadi maestro pendidikan tanpa membedakan etnis, suku, dan agama. Kehadirannya mengubah stigma negatif kolonial Belanda terhadap orang pribumi.

Nadjamuddin mengakui, bila dibandingkan dengan jasa Romo Van Lith, penghargaan ini tak berarti apa-apa. Karena yang dibuat Romo Van Lith jauh lebih besar dari sekadar sebuah penghargaan. Tetapi pemerintah perlu mengapresiasi jasa bapak pendidikan ini. Tujuannya agar orang Indonesia tahu ada orang-orang seperti Romo Van Lith yang mau berkorban waktu, tenaga, dan pikiran untuk membangun Indonesia. Kehadiran Romo Van Lith mau mengikis perbedaan antara masyarakat sosialis-kolonialis dan masyarakat pribumi. Romo Van Lith telah menanamkan semangat kebangsaan. “Meski saya tak mengenal Romo Van Lith, tetapi bagi saya dia adalah orang asing yang 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia,” ujar Nadjamuddin.

Stefanus P. Elu/Yusti H.Wuarmanuk

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 41 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 9 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*