Artikel Terbaru

Menempa Calon Kartika Bangsa

Buder Agustinus Giwal Santoso FIC. Rektor dan Kepala Sekolah SMA Pangudi Luhur Van Lith
[HIDUP/Yusti H. Wuarmanuk]
Menempa Calon Kartika Bangsa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSekolah Van Lith Muntilan masih mewarisi model pendidikan yang diwariskan Romo Van Lith. Tradisi dan modernitas dipadukan untuk melahirkan kartika-kartika bangsa.

SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan, Jawa Tengah, masih setia mewarisi nilai-nilai pendidikan dari Romo Franciscus Georgius Josephus van Lith SJ. Rektor dan Kepala Sekolah SMA Pangudi Luhur Van Lith Br Agustinus Giwal Santoso FIC meyakini, antara tradisi pendidikan model Van Lith dan modernitas bisa dijembatani. Sejauh ini sekolah binaannya bisa menghidupi dua tradisi itu dengan baik. Berikut petikan wawancara dengan Bruder Giwal saat malam penganugerahan Satya Lencana Kebudayaan untuk Romo Van Lith.

Apa model pendidikan yang diperkenalkan Romo Van Lith?

Romo Van Lith memperkenalkan pendidikan dengan sistem konvic. Artinya, ia mengadopsi budaya Indonesia, terutama Jawa, dan dipadukan dengan sistem pendidikan ala Barat. Ia menerapkan sekolah berasrama wajib untuk masyarakat pribumi. Sampai sekarang model itu masih dipertahankan SMA Van Lith Muntilan. Para bruder Fratrum Immaculatae Conceptionis (FIC) bertugas meneruskan yang sudah ditanamkan Romo Van Lith, mulai dari sistem hingga isinya.

Mengapa perlu sekolah berasrama wajib?

Sejak awal, Romo Van Lith berkata, “Kamu orang-orang Jawa harus bisa mandiri karena inilah pendidikan karakter yang paling dasar. Orang bisa berdiri di atas kakinya sendiri.” Lewat hidup berasrama anak-anak belajar mandiri.

Apakah model pendidikan ini masih relevan?

Tentu masih sangat relevan! Sekolah berasrama masih menjadi pilihan anak-anak dari seluruh Nusantara. Dulu yang dididik di Sekolah Van Lith adalah anak-anak petani dari ekonomi menengah ke bawah. Sekarang banyak siswa SMA Van Lith yang berlatar belakang ekonomi menengah ke atas. Mereka dididik mandiri, mulai dari bangun pagi, mandi, atau mencuci pakaian sendiri. Semua diatur dengan jadwal rutin. Saya yakin, kalau anak-anak bisa mengikuti jadwal tersebut, mereka bisa belajar menjadi pribadi-pribadi yang mandiri.

Tapi orang muda sekarangkan hidup di era gadget. Bagaimana hal ini diatasi?

Pendidikan ala Romo Van Lith menggunakan sistem konvic yang menggabungkan nilai-nilai tradisional dan modern. SMA Van Lith masih mempertahankan sekolah berasrama untuk melahirkan pribadi yang mandiri. Ini bentuk konvensionalnya. Era gadget tak bisa ditolak. Maka kami mengakomodasi dua-duanya. Gadget boleh digunakan siswa, tapi diatur pemakaiannya. Gadget hanya boleh digunakan tiap Kamis, dari pukul 14:00-17:00. Pada hari Minggu, siswa juga boleh menggunakan gadget. Setiap Minggu mereka juga wajib mengajar agama di wilayah sekitar Muntilan. Memang masih terasa unsur tradisionalnya, tapi di balik itu ada nilai yang ingin diperjuangkan.

Apa beda Sekolah Van Lith Muntilan dengan sekolah lain?

Ini sekolah model semi seminari. Ada pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah umum, seperti pelajaran wawasan kebangsaan, sidang akademik, dan live in. SMA Van Lith mengadopsi dua kurikulum, yaitu kurikulum nasional dan kurikulum spiritualitas pengembangan kampus. Kurikulum nasional dilaksanakan pada jam efektif, seperti di sekolah yang lain. Setelah itu ada tambahan pelajaran untuk spiritualitas pengembangan kampus. Jadi, sore sampai pagi adalah mengembangkan pendidikan karakter yang bersumber pada nilai-nilai luhur yang diwariskan Romo Van Lith.

Apa yang dirasakan Bruder selama berkarya di Sekolah Van Lith?

Saya bangga sebagai alumni dan sekarang berkarya di SMA Van Lith. Untuk meneruskan warisan Romo Van Lith memang harus punya prinsip dasar dan komitmen, serta dijalankan secara konsisten dan konsekuen. Saya sangat bangga mendampingi anak-anak dalam keseharian. Moto yang kami pakai adalah “Dari Van Lith untuk Indonesia Memardi Kartika Bangsa.”

Marchella A. Vieba

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 41 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 9 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*