Artikel Terbaru

Tradisi Ruwatan

Tradisi Ruwatan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comBolehkah seorang Katolik mengikuti upacara ruwatan dalam tradisi budaya Jawa? Bagaimana jika yang meruwat adalah seorang imam dan dilakukan dalam perayaan Ekaristi sebagai upaya inkulturasi iman Katolik?

Tyas Pribadi, Malang

Pertama, upacara ruwatan, berasal dari tradisi Jawa, adalah upacara pembebasan dari kesalahan yang dipercayai membawa nasib buruk atau malapetaka bagi diri dan sesamanya. Orang yang mempunyai kesalahan itu disebut sukerto. Kesalahan yang dimaksud mencakup bukan hanya tindakan moral, tetapi juga jumlah anak, urutan kelahiran, menjatuhkan alat-alat dapur, serta yang lain. Karena kesalahan ini mereka akan dimakan oleh Bhatara Kala. Untuk menyelamatkan para sukerto, manusia perlu memuaskan Bhatara Kala sehingga tidak memangsa para sukerto. Maka perlu diadakan upacara ruwatan berbentuk pagelaran wayang dengan lakon Murwakala. Ada juga upacara ritual yang harus dilakukan, antara lain menggunting rambut atau membuang rambut.

Kedua, dalam iman kita, pembebasan dari segala kesalahan atau dosa sudah dilakukan secara tuntas oleh Yesus Kristus dengan wafat dan bangkit dari kematian (bdk. Mrk 10:45; Kis 2:12; Ef 1:17). Dalam Kristus, Allah telah memperdamaikan segala sesuatu yang  kelihatan maupun yang tak kelihatan, yang di bumi maupun di surga, dengan diri-Nya melalui darah salib Kristus (bdk. Kol 1:21 dan Flp 2:10). Jadi, semua kuasa dosa dalam segala bentuknya, juga dalam semua budaya, sudah ditaklukkan Tuhan Yesus Kristus. Penebusan ini sudah dilimpahkan kepada setiap orang melalui Sakramen Baptis. Karena itu, Paulus mengajarkan bahwa dalam pembaptisan kita sudah mati bagi dosa, termasuk sukerto, dengan segala kuasanya dan hidup bagi Allah (Rm 5:1-11). Maka menurut iman Katolik, tidak perlu lagi mengadakan upacara pembebasan dari sukerto atau upacara ruwatan, biarpun diberi tambahan predikat Katolik dan dilakukan dalam perayaan Ekaristi. Penebusan sudah dilakukan Yesus Kristus dan itu bersifat tuntas dan final.

Ketiga, usaha inkulturasi atau memasukkan upacara ruwatan dalam iman Katolik membutuhkan pemurnian dan pengarahan yang tegas. Pengertian tentang para penyandang sukerto perlu dipertimbangkan secara kritis dengan menghapuskan beberapa ajaran yang tidak benar. Demikian pula, maksud utama upacara ruwatan harus dikoreksi, yaitu bukanlah untuk menghapus sukerto karena penebusan kesalahan dan segala dosa ini sudah dilakukan oleh Yesus Kristus dalam peristiwa Kalvari. Peristiwa Kalvari ini sering disebut sebagai penebusan objektif. Dalam hal penebusan objektif, sudah tidak dibutuhkan lagi tambahan upacara apapun.

Dalam iman Katolik, upacara ruwatan bisa dimasukkan ke dalam konteks penebusan subjektif, yaitu usaha manusia (dan Roh Kudus) untuk menerapkan rahmat penebusan Yesus Kristus dari peristiwa Kalvari dalam diri orang-orang yang disebut sukerto. Dalam hal ini sukerto harus dimengerti sebagai sisa hukuman dosa sementara (seperti pada pengertian indulgensi) yang menjadi hambatan-hambatan bagi bekerjanya rahmat Allah. Hambatan itu muncul dalam diri seseorang karena dosa atau posisi sosial seseorang dalam keluarga. Hambatan-hambatan itu bisa berupa karakter, kebiasaan, cara pandang, dan yang lain. Maka upacara ruwatan Katolik bertujuan untuk menghapuskan hambatan-hambatan itu supaya rahmat penebusan Kristus bekerja secara efektif menjauhkan orang itu dari sengat dosa atau malapetaka. Jadi, upacara ruwatan bisa mirip dengan upacara untuk mendapatkan indulgensi atau upacara pencurahan Roh dalam gerakan Karismatik. Upacara ruwatan tidak bersentuhan dengan penebusan objektif, tetapi berada dalam konteks penebusan subjektif.

Keempat, upacara ruwatan hendaknya tidak disisipkan dalam perayaan Ekaristi, tetapi dilakukan sesudahnya. Upacara ritual praktis yang berbau takhayul perlu dimurnikan dan disesuaikan dengan kebiasaan Katolik.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 41 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 9 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*