Artikel Terbaru

Pinjaman Ditolak, Om Mengancam

Pinjaman Ditolak, Om Mengancam
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comRomo Erwin, saya anak tunggal. Usia saya 31 tahun. Saya tinggal dengan mama dan tante karena papa sudah meninggal dunia. Pada suatu hari, om, adik kandung mama, datang ke rumah. Ia pinjam uang kepada mama. Semula mama tak memberi, karena pinjaman om besar. Mama juga mempertimbangkan kebutuhan kami di rumah. Om mengancam bunuh diri. Mama lalu memberi setengah pinjaman. Selang beberapa bulan, om datang lagi. Ia pinjam uang lagi. Mama keberatan. Om mengancam dengan berbagai cara, misal membakar rumah kami. Terus terang, saya marah dengan kelakuan om. Dia selalu meminjam uang tapi tak pernah mengembalikan. Tetapi saya juga bingung, mama seakan membela dia. Mama mengatakan, membantu orang itu baik, ada pahala dari Tuhan nanti. Apa yang harus saya lakukan?

Edward, Cirebon

Edward yang sedang bingung, masalahmu harus dipahami dengan lebih hati-hati dan bijaksana, karena sebenarnya bukan menyangkut keluarga inti (orangtua dan anak), melainkan keluarga inti dan keluarga besar. Jika ingin memahami, maka hukum umum dapat diterapkan: tidak ada tanggung jawab apapun antara keluarga inti dengan keluarga besar, termasuk memberi bantuan. Tak ada hukum yang mengatakan kewajiban ini, kecuali memang ada perjanjian lain yang mengikat.

Ketika seorang kerabat meminta bantuan, menurut saya, jika tidak ada hal lain yang menuntut pemenuhan, tak ada kewajiban apapun untuk membantu. Sifat membantu hanya ada menurut kerelaan pihak yang membantu. Jika bantuan menjadi terpaksa, maka sifatnya tetap paksaan.

Peristiwa dalam keluargamu, antara mama dan om adalah peristiwa sederhana yang bila diputuskan dengan tegas akan dapat diselesaikan. Ancaman akan terus diluncurkan karena ada kepastian akan diluluskan jika mama diancam. Kita tak selalu bertanggung jawab atas hidup seseorang, sejauh dia di luar tanggung jawab kita. Maka ancaman harus diabaikan.

Sampai kapan om akan terus mengancam dan membuat Anda tak berdaya? Sampai kapan kalian akan membantu ia untuk membayar hutang yang sama sekali bukan tanggung jawab Anda dan mama? Hal ini tidak bisa dikaitkan hanya dengan belas kasih atau belarasa.

Kita berbelas kasih kepada orang yang mengalami kesulitan dan menderita, tetapi membantu orang yang memiliki masalah keuangan tanpa tujuan jelas, bukan termasuk menolong, meskipun itu keluarga dekat atau paman sendiri. Prinsip yang dipegang adalah keselamatan dan kesejahteraan seluruh keluarga.

Kita tak berdosa hanya karena menghentikan pertolongan kepada orang yang mengancam diri sendiri demi memaksakan maksudnya. Jika Anda bertanya, apa yang harus dilakukan, jawaban saya adalah memberi peneguhan kepada mama agar menghentikan pertolongan, tanpa rasa khawatir oleh ancaman. Sampaikan yang kita pahami bersama sehingga seluruh keluarga tidak perlu dikorbankan untuk hal yang kurang berguna, bahkan hanya memberi rasa takut saja.

Bagaimana dengan keselamatan keluarga Anda, mama, Anda, serta barangkali keluarga yang ada di rumah? Bukankah mereka adalah orang yang paling pantas mendapat perhatian? Selain itu, sampaikan masalah ini kepada keluarga yang lain sehingga mereka ikut mengerti duduk permasalahan. Anda tak akan disalahkan hanya karena tidak menolong, karena menolong selalu ada batasnya, kecuali untuk keluarga inti, orangtua, dan anak dalam keluarga Anda.

Bersikaplah tulus dalam membantu atau menolong, tapi bersikaplah cerdas mencermati hidup, jangan kita disesatkan oleh perasaan yang kurang bijaksana hasilnya. Barangkali tafsiran bebas dari Matius 10:16 bisa meneguhkan, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”. Tuhan memberkati Anda dan Mama dalam memutuskan kebijaksanaan ini.

Alexander Erwin Santoso MSF

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 41 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 9 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*