Artikel Terbaru

St Leo Agung Jatibening Jakarta: Gereja yang Terus Bertumbuh

Sumber: [stleo.com]
St Leo Agung Jatibening Jakarta: Gereja yang Terus Bertumbuh
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Paroki Santo Leo Agung Jatibening, Jakarta Timur adalah paroki yang berdiri setelah melalui jalan panjang dan perjuangan berliku. Ketegaran sosok pelindunglah yang membuat paroki ini tetap bertahan hingga saat ini.

Paroki ini merupakan pemekaran dari Paroki Santa Anna Duren Sawit, Jakarta Timur. Ide pemekaran mulai dilontarkan warga paroki saat jumlah warga di wilayah Jatibening pada akhir 1980 telah mencapai 12.000 jiwa.

Keinginan ini mendapat tanggapan positif dari Uskup Agung Jakarta kala itu, Mgr Leo Soekoto SJ. Tanggapan ini memotivasi umat untuk segera mencari lahan untuk pembangunan gereja. Maka, diperoleh lahan di Jl Kemangsari I/74 Jatibening, Bekasi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, lahan itu dipakai sebagai Rumah Biara Susteran Ordo FCJM ”Pondok Clara Pfinder”.

Kemudian, diperoleh kembali lahan lain dekat biara tersebut seluas 7.742 meter persegi. Setelah melewati usaha panjang perihal urusan surat-surat dan komunikasi dengan warga sekitar, akhirnya dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja (PPG). Sementara proses pembangunan gereja berlangsung, Misa dilakukan di rumah salah seorang warga setiap dua minggu sekali. Lalu, bergantian diadakan di TK Kenari di kompleks yang sama. Minggu, 4 Juni 1991, saat Perayaan Ekaristi tengah berlangsung, sejumlah massa datang dan membubarkan Misa. Akhirnya, Misa kembali ke tempat semula.

Demi memenuhi kebutuhan umat akan tempat ibadat, pada Desember 1995 umat mendirikan gereja tenda berukuran 16 x 36 meter yang kemudian dikembangkan menjadi Gedung Serba Guna. Gedung ini dinamakan ”Graha Manunggal Bhakti Leo” untuk kegiatan ibadah, Misa, dan kegiatan rohani lainnya. Gua Bunda Maria pun dibangun di tempat ini.

Sayangnya, bangunan yang telah menelan biaya sekitar 600 juta rupiah ini hanya bertahan sebentar. Pada 17 Desember 1996 terjadi kerusuhan. Sejumlah massa membakarnya. Namun dalam kejadian tersebut, ternyata ada benda-benda suci yang tetap utuh dan tersimpan hingga sekarang, seperti Puji Syukur, Hosti, salib, sibori, pixis, telapak tangan patung dan mahkota patung Bunda Maria.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*