Artikel Terbaru

Alexander Marwata: Memberantas Korupsi Secara Sistematis

Alexander Marwata
Alexander Marwata: Memberantas Korupsi Secara Sistematis
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com“Salah satu penyebab korupsi adalah kelemahan sistem. Itu harus kita benahi. Itu motivasi saya mencalonkan diri menjadi Pimpinan KPK.”

Headline sebuah surat kabar di Jakarta menurunkan judul berita yang cukup menohok pada 18 Desember 2015, “Bos Baru KPK Nyatakan Mandra Tak Bersalah”. Subyek yang dimaksud dalam kop berita itu adalah Alexander Marwata. Hakim ad hoc Pengadilan Tindak Pidana Korupsi itu adalah satu-satunya pengadil yang menyatakan Mandra, sang seniman Betawi tak bersalah.

Bukan kali itu saja Alex memberikan pendapat berbeda atau dissenting opinion dengan para koleganya. Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 26 Februari 1967 ini beberapa kali melakukan aksi serupa terkait penanganan kasus korupsi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, misal kasus suap Pilkada Lebak, Banten dengan terdakwa Ratu Atut Chosiyah. Alex memutuskan, orang nomor satu (non aktif ) di Provinsi
Banten itu tak bersalah.

Kerap melancarkan dissenting opinion, banyak pihak meragukan integritas Alex untuk memimpin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bagaimana mungkin, penjaga gerbang terakhir kekayaan negara justru berhati lembek terhadap para koruptor?

Pendapat Berbeda
Soal pencalonan Alex, pendapat berbeda justru terlontar dari Juru Bicara Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK, Betti Alisjahbana. Menurut Betti, tiap memberikan dissenting opinion, Alex selalu menyertakan analisa lengkap. Tujuannya, kata Betti, agar jaksa bisa melakukan penuntutan dengan lebih baik ke depan. Betti menambahkan, Alex adalah hakim jujur dan teliti. Logika berpikirnya lugas dan tak pernah ragu menyampaikan pendapat, walaupun bertentangan dengan rekan kerja atau masyarakat.

Alex sadar, kerap menjadi gonjang-ganjing media dan masyarakat lantaran pendapatnya berbeda. Namun kata alumnus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara ini, tanggapan berbeda itu bukan sekadar lagak. Alex tak ingin putusan diambil berdasarkan opini yang berkembang di masyarakat, media massa, tekanan dari berbagai pihak, atau ketakutan sang hakim.

Hakim, kata Alex, memutuskan seseorang bersalah atau tidak berdasarkan berbagai fakta yang terungkap dalam persidangan. Selain itu juga dari keyakinan hakim yang bersumber dari kompetensi dan pengalaman. “Empat tahun melakukan dissenting opinion, saya tak pernah dipanggil Komisi Yudisial dan Badan Pengawas Mahkamah Agung. Nggak pernah,” bebernya. “Jika itu (pandangan-Red) berasal dari pikiran jernih dan sama sekali tak terlibat money politic, kenapa saya harus takut?” tantang suami Engelina Nanik Nurhayati ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*