Artikel Terbaru

Pengakuan Dosa

Sumber Ilustrasi: [ilustrasi/whycatholicsdothat.com]
Pengakuan Dosa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPastor, kalau dosa-dosa saya ringan saja, apakah perlu saya mengaku dosa? Bukankah pengakuan dosa hanya untuk dosa-dosa berat?

Tina Vestra, 085360526xxx

Pertama, syukur kepada Tuhan jika kita dimampukan menghayati hidup yang sesuai dengan ajaran Tuhan, dan hanya melakukan dosa-dosa ringan. Namun, sadar akan keterbatasan dan kelemahan kita dalam melihat diri sendiri, baiklah kalau kita terus mengasah kepekaan kita akan dosa. Banyak orang yang semakin kehilangan rasa dosa, baik karena kurangnya pengetahuan iman maupun karena hati nurani yang semakin tumpul (bdk HIDUP, No 09, 2 Maret 2008).

Kedua, perintah keempat dari ”Lima Perintah Gereja” mengajarkan ”mengaku dosalah sekurang-kurangnya sekali setahun”. Tentu perintah Gereja ini perlu kita lakukan, juga jika kita merasa dosa-dosa kita adalah dosa ringan. Dengan mengakukan dosa-dosa ringan, kita mempertebal iman dan sikap pasrah kita, sekaligus membentuk hati nurani kita menjadi lebih peka pada dosa. Pengakuan dosa yang demikian menyuburkan pertumbuhan hidup rohani.

Katekismus mengajarkan: ”Pengakuan kekurangan sehari-hari, yakni dosa-dosa ringan, sebenarnya tidak perlu, tetapi sangat dianjurkan oleh Gereja. Pengakuan dosa-dosa ringan secara teratur adalah suatu bantuan bagi kita, untuk membentuk hati nurani kita melawan kecondongan kita yang jahat, membiarkan kita disembuhkan oleh Kristus dan bertumbuh dalam hidup rohani. Kalau kita dalam sakramen ini sering menerima anugerah belas kasihan Allah, Ia lalu mendorong kita agar kita sendiri juga berbelas kasihan seperti Dia” (KGK no 1458).

Dalam suatu pengakuan dosa, saya begitu gugup sehingga dosa-dosa yang sudah saya ingat-ingat untuk dikatakan, ternyata ada yang terlupa. Apakah saya harus mengakukan dosa-dosa yang terlupa itu lagi?

Myriam Sukarti, 081333779xxx

Yang menentukan di sini ialah ketulusan hati kita dalam mengakukan dosa. Jika kita sungguh tulus dan tanpa diniati, ternyata lupa mengatakan, maka dosa itu sudah diampuni bersama dengan dosa-dosa lainnya. Tetapi, jika kita sengaja tidak mengatakan secara eksplisit dosa itu atau kita menyembunyikan dosa itu, maka dosa itu belum diampuni. Biasanya dosa yang terlupakan adalah dosa yang tidak begitu penting.

Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, si bungsu belum sempat menyelesaikan ”pengakuan dosa” yang telah disiapkannya (bdk Luk 15: 18-19 dengan ay 21), ketika ayahnya merangkul dan mencium dia. Kelengkapan pengakuan lisan atas dosanya bukanlah syarat utama. Kemauan untuk bertobat dan ketulusan untuk kembali kepada Bapa yang diungkapkan secara lisan, sudah cukup bagi Bapa itu untuk memberikan pengampunan secara menyeluruh. Jadi, yang penting di sini ialah ketulusan hati kita.

Dalam suatu khotbah, seorang pastor mengatakan bahwa melalui penerimaan Sakramen Pengakuan Dosa, ia mengetahui ada begitu banyak dosa aborsi yang dilakukan oleh muda-mudi pada waktu ini. Apakah kata-kata pastor itu bukan membocorkan rahasia pengakuan dosa yang sangat dijaga ketat itu?

Yohanes Sitohang, Medan

Inti dari rahasia pengakuan dosa ialah menjaga agar tidak terjadi identifikasi antara dosa dan pendosa. Artinya, kalau dengan mengungkapkan pengetahuan itu dalam khotbah, umat kemudian bisa mengidentifikasi siapa yang melakukan dosa yang dimaksud, maka pastor itu melanggar rahasia pengakuan. Jika ternyata tidak bisa dilakukan identifikasi, maka tidak terjadi pelanggaran rahasia pengakuan.

KGK 1467 mengatakan, ”Ia juga tidak boleh merujuk pada pengetahuan yang Pengakuan telah berikan kepadanya mengenai kehidupan peniten”. Pernyataan katekismus ini, khususnya pada penggunaan ”pengetahuan rahasia” itu untuk mengubah tindakan atau perlakuan terhadap pribadi peniten. Misalnya, setelah mendengarkan pengakuan dosa aborsi dari seorang lektor di paroki, pastor itu kemudian melarang yang bersangkutan untuk melanjutkan melayani sebagai lektor, atau misalnya pastor itu mengubah sikapnya terhadap orang itu dalam pertemuan sehari-hari sesudah itu.

Penggunaan pengetahuan secara umum tetap diperbolehkan, karena ada banyak orang yang mengakukan dosa yang sama. Apabila hanya satu atau beberapa orang mengakukan suatu dosa, dan umat dengan mudah bisa melakukan identifikasi antara dosa dan pendosa, maka pengetahuan itu tidak boleh diungkapkan.

Mungkin juga lebih bijaksana, jika pastor itu tidak merujuk ”pengetahuan rahasia” itu sebagai hasil dari mendengarkan pengakuan dosa. Ungkapan pastor yang demikian dalam khotbah bisa menyurutkan keberanian umat untuk mengaku dosa kepada dia.

Dr Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*