Artikel Terbaru

Membohongi Tuhan

Sumber Ilustrasi: [wallpaper-desktop.ru]
Membohongi Tuhan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comBeberapa bulan yang lalu, saya mengikuti Misa di gereja Batam. Khotbahnya mengenai kerajinan untuk berdoa. Yang membuat saya tergelitik adalah salah satu pernyataan bahwa orang mati masih saja membohongi Tuhan. Penjelasannya, ketika hidup, dia jarang atau tidak pernah berdoa rosario, tapi kok di peti matinya memegang rosario. Benarkah orang itu menipu Tuhan? Apakah dengan demikian, umat yang jarang/tidak pernah berdoa rosario, jika meninggal tidak boleh membawa rosario? Mohon penjelasan Romo.

Fanny Francisca ([email protected])

Pertama, kita percaya bahwa Tuhan mampu melihat bukan hanya apa yang kelihatan, tetapi juga apa yang tidak kelihatan. Kita tidak bisa menipu Tuhan. Karena itu, kebiasaan menyertakan rosario pada jenazah orang Katolik dalam peti mati, tidak bisa dinilai sebagai menipu Tuhan.

Kedua, masalah utama di sini ialah bagaimana kita memaknai posisi tangan jenazah yang memegang rosario. Posisi tersebut tidak selalu harus diartikan bahwa ketika masih hidup orang itu sering berdoa rosario. Seandainya orang yang meninggal itu pernah mendoakan rosario sekali saja, bahkan jika hal itu terjadi dalam doa bersama di lingkungan, kiranya hal itu sudah cukup menjadi alasan untuk membenarkan jenazah orang itu diberi rosario. Bahkan, jika ternyata orang yang meninggal itu belum pernah dan tidak mengenal doa rosario, kita tetap bisa memaknai posisi tangan yang memegang rosario itu sebagai ungkapan iman orang-orang yang hidup bahwa Bunda Maria menyertai arwah orang yang meninggal itu dalam perjalanan kembali kepada Allah Bapa.

Dalam sebuah Misa di lingkungan, di luar dugaan, ada begitu banyak umat yang hadir sehingga hosti yang disediakan ternyata kurang. Kemudian, imam mengambil hosti yang belum dikonsekrasikan dan mencelupkannya ke dalam anggur dan membagikan kepada umat. Apakah praktik seperti ini bisa dibenarkan?

Maria Christina Pinem, Medan

Pertama, penggunaan hosti yang belum dikonsekrasikan untuk memberikan darah Kristus (anggur) tidak diperkenankan (Redemptionis Sacramentum, no 104). Instruksi dari Kongregasi untuk Ibadat ini tidak memberikan alasan mengapa hal itu dilarang.

Kedua, kita bisa memprakirakan alasan pelarangan itu dengan memperhatikan semangat Instruksi, yaitu bahwa hendaknya dicegah terjadi pelecehan (profanasi) atas hosti dan anggur (RS no 92, 101) atau mencegah bahaya terjadinya “kebingungan di antara umat Kristus tentang ajaran Ekaristis Gereja” (RS no 96). Jadi, bisa dikatakan bahwa Gereja tidak ingin bahwa umat menyamakan antara roti yang sudah dikonsekrasikan dengan roti yang dicelupkan ke anggur. Juga bisa dikatakan bahwa Gereja tidak ingin umat salah mengerti bahwa hosti yang belum dikonsekrasikan itu berubah menjadi tubuh Kristus hanya melalui pencelupan ke dalam anggur. Untuk beberapa hal, Instruksi ini juga menganjurkan diberikannya katekese yang tepat kepada umat (RS no 100).

KOMENTAR ANDA:

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*