Artikel Terbaru

Calon Suami Sudah Menikah Siri

[google image]
Calon Suami Sudah Menikah Siri
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comSaya merencanakan menikah dengan seorang pemuda suku Batak. Kami saling menyukai, sudah merasa cocok, dan seiman. Hanya akhir-akhir ini ada masalah tentang status calon suami saya. Ternyata, dia terikat kawin siri dengan paribannya di Medan.
 
Dia sendiri tidak mencintai paribannya. Suatu hari, dia tahu kalau status dia ditukar dengan warisan mamaknya. Dia juga tahu cowok yang menghamili paribannya itu. Dia lalu lari ke Jakarta. Akhirnya, kami bertemu dan saling jatuh cinta.
 
Setelah kenal dengan saya, pemuda itu mulai memperbaiki hubungan dengan keluarganya lagi. Prinsip saya kalau menikah harus ada restu dari orangtua kedua belah pihak. Belakangan orangtuanya setuju dan merestui hubungan kami. Tetapi, mereka mengajukan dua syarat. Pertama, anak yang sudah dilahirkan walaupun bukan darah daging pemuda tadi harus kami adopsi. Kedua, kami harus menikah adat dulu dengan adat Batak.
1 Apakah Gereja Katolik mengakui nikah siri?
2 Bisakah pernikahan itu diceraikan?
3 Bisakah kami meneruskan ke jenjang pernikahan?
4 Langkah yang paling baik apa yang harus saya lakukan?
5 Apakah harus selalu lewat jalur nikah adat?
6 Bagaimana dengan nasib anak tadi?
 
Asteria, Pasuruan
 
Drs Haryo Goeritno MSi:
Setelah kami mencermati isi surat yang Sdri kirim, sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang ingin kami ajukan. Namun, karena keterbatasan komunikasi, pertanyaan tersebut bisa menjadi bahan renungan Sdri dalam mengambil keputusan untuk merencanakan pernikahan dengan pemuda Batak tersebut. Sudah berapa lama dan sejauh mana Sdri mengenal sifat atau kepribadian calon pasangan tersebut? Seberapa jauh perkataan yang diucapkannya bisa dipercaya? Seberapa jauh Sdri mengenal keluarganya?
 
Mengapa hal ini kami tanyakan, karena kita harus berhati-hati sebelum mengetahui asal-usul pemuda tersebut secara jelas, baik berkaitan dengan sifat dan kepribadiannya maupun latar belakang budaya dan keluarganya. Banyak kasus, setelah menikah mereka pulang dengan alasan ingin bertemu keluarga, namun tidak kembali lagi. Apalagi dalam surat Sdri, kami melihat indikasi adanya sikap yang masih ragu-ragu dan ada suatu permasalahan yang belum terselesaikan antara Sdri dengan pemuda tersebut. Karena itu, menurut kami, tunda dulu rencana pernikahan sampai semuanya jelas, agar tidak mengalami penyesalan di kemudian hari.
 
Belum menikah saja, sudah banyak permasalahan yang belum terselesaikan, lalu bagaimana jadinya kehidupan pernikahan yang Sdri alami nantinya, bila semuanya belum ada penyelesaian secara jelas.
 
Seandainya, bila semua telah jelas dan permasalahan sudah dapat diatasi, dan Sdri sudah bersepakat hidup bersama, tentulah upacara pernikahan secara adat Batak mau tidak mau harus Sdri jalani. Begitulah bila Sdri ingin diterima di lingkungan keluarganya. Begitu pula sebaliknya dengan calon pasangan Sdri, bila ingin diterima di lingkungan keluarga Sdri tentunya harus mengikuti upacara-upacara tertentu yang telah ditentukan oleh keluarga Sdri. Untuk semuanya itu, perlu ada komunikasi yang jelas, kejujuran, dan saling percaya.
 
Akhirnya, sebelum Sdri memutuskan menikah, pertanyaan-pertanyaan di atas perlu direnungkan kembali. Namun, semuanya bermuara pada diri Sdri sendiri, karena apa pun keputusan yang sudah diputuskan, jangan sampai timbul penyesalan di kemudian hari. Tuhan memberkati.
 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*