Artikel Terbaru

Liturgia Instauranda

Liturgia Instauranda
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tulisan ini menanggapi artikel berjudul, “Liturgi: Menghadap Allah” tulisan RD Jacobus Tarigan yang dimuat Majalah HIDUP edisi No.31, 31 Juli 2016. Dalam artikel tersebut penulis mengajak pembaca meninjau kembali dinamika pembaruan liturgi sejak dimaklumkan Konstitusi Dogmatis Sacrosanctum Concilium dengan mengacu pada pidato Kardinal Robert Sarah, Prefek Kongregasi Liturgi Suci dalam sebuah konferensi Liturgi di London, 5 Juli 2016. Tulisan tersebut berisi tanggapan atas fenomena pembaruan liturgi dewasa ini, serta menyinggung usulan Misa Ad Orientem.

Berkenaan dengan fenomena pembaruan liturgi, artikel tersebut mengatakan bahwa ada banyak distorsi dan penyimpangan dalam memahami arti pembaruan. Perayaan Liturgi menjadi subjektif, terjemahan teks liturgi ke dalam bahasa lokal dan aneka upaya inkulturasi justru membelokkan fokus, bahkan mengecualikan Allah. Disebutkan pula penilaian lain yang bukan hanya bernada negatif dan pesimis tapi juga terlalu sempit dan judgmental. Bagaimana mungkin disimpulkan begitu saja bahwa adanya lagu-lagu inkulturatif, tarian, dan penggunaan bahasa lokal dalam liturgi ditujukan untuk merayakan identitas diri sehingga melupakan Allah?

Ada baiknya membaca kembali Sacrosanctum Concilium No. 7, yang berbicara mengenai kehadiran Kristus dalam liturgi. Diimani bahwa Kristus senantiasa hadir dalam Gereja-Nya dan secara khusus Ia hadir dalam tindakan-tindakan liturgis. Dalam liturgi Ia hadir, baik di altar maupun dalam jemaat ketika mereka berdoa dan bermadah (Praesens adest denique dum supplicat et psallit Ecclesia). Dikutip pula janji Yesus: “Di mana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah- tengah mereka” (Mat 18:20).

Maka muncul pertanyaan, bagaimana mungkin jemaat bisa berdoa tanpa mengunakan bahasa yang dipahami? Bagaimana mungkin bermadah memuji tanpa jenis nyanyian yang dekat dengan ekspresi mereka? Benar bahwa melupakan Allah adalah bahaya besar, tapi menganggap Allah tak hadir, tak dijumpai, dan dimuliakan lewat hal-hal yang manusiawi adalah bahaya yang lebih fatal. Kita tidak bisa serampangan menilai seberapa “benar” orang berdoa dan memuji, apalagi memutuskan apakah Allah hadir dan menjadi pusat di tengah-tengah mereka.

Hal kedua yang perlu ditanggapi adalah soal kasak-kusuk usulan Misa Ad Orientem sebagai ungkapan kita menghadap dan menyembah Allah. Istilah Ad Orientem atau menghadap ke timur merupakan istilah teknis liturgi di mana imam dan umat menghadap ke arah yang sama. Dituliskan di artikel tersebut, bahwa Kardinal Sarah menganjurkan praktik ini sangat baik untuk dimulai pada Minggu pertama Adven tahun ini.

Dari segi teknis-praktis, ada dua catatan mengenai pernyataan ini. Pertama, soal pentingnya membuat pembedaan yang jelas antara pendapat pribadi dan keputusan resmi Gereja. Jika benar bahwa Kardinal Sarah menganjurkan demikian, maka hal ini perlu dipahami sebagai  pendapat pribadi, bukan pendapat resmi Gereja. Tidak bijak pula mengatakan bahwa dengan membaca pendapat pribadi seseorang, kita bisa memperkirakan ke mana Paus Fransiskus membawa liturgi Gereja.

Kedua, soal pentingnya mencari klarifikasi atas sebuah kabar simpang siur. Tidak baik membiarkan isu berkembang dan kemudian disalahmengerti. Terkait isu Ad Orientem, pada 11 Juli 2016, Juru Bicara Vatikan waktu itu Pater Frederico Lombardi, telah memberikan tanggapan resmi Vatikan dengan sangat jelas: tidak ada instruksi atau norma baru dalam liturgi Gereja yang akan mulai diberlakukan pada Minggu pertama masa Adven mendatang. Maka, usulan Misa Ad Orientem tidak perlu diteruskan dan dipraktikkan.

Konsili Vatikan II mengusung semangat pembaruan dalam Gereja, juga dalam liturgi. Maka sungguh ironis ketika proses pembaruan terus diusahakan muncul wacana soal pengembalian posisi imam-umat seperti masa sebelum Konsili Vatikan II. Hal ini justru menjadikan semangat awal pembaruan itu dipertanyakan kembali. Apakah memang ada gerakan pembaruan atas pembaruan liturgi? Slogan “pembaruan atas pembaruan liturgi” justru menjadi sumber kesalahpahaman dan ketidakkonsekuenan atas semangat awal pembaruan.

Mario Tomi Subardjo SJ

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 41 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 9 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*