Artikel Terbaru

Mendidik Orang Muda Katolik

Mendidik Orang Muda Katolik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Orang bilang, orang muda identik dengan era pergerakan (age in motion), sementara orang berumur sering dikaitkan dengan fase penemuan (age of discovery). Orang muda senantiasa bergerak sebab mereka belum selesai mencari. Maka, mereka biasanya dinamis, mengagetkan, cepat bosan, dan selalu gelisah. Zaman Pergerakan di Indonesia juga didominasi orang-orang muda. Tanpa pemuda, kemerdekaan Indonesia tak akan pernah diproklamirkan. Para tokoh seperti Sukarno, Sjahrir, dan Tan Malaka, serta sastrawan Angkatan ’45, seperti Idrus dan Chairil Anwar adalah orang-orang muda yang revolusioner dalam berpikir dan bertindak.

Tapi tidak semua orang muda berjiwa matang. Romo Y.B. Mangunwijaya, dalam novel Burung-Burung Manyar, bercerita tentang laskar pemuda yang keluar masuk kampung dan meneror rakyat atas nama perjuangan. Mereka mencuri ayam, mengganggu perempuan, dan menganggap setiap kampung yang dimasuki sebagai milik moyangnya. Sementara itu, cerpenis Djenar Maesa Ayu sering bertutur tentang orang-orang muda kota besar yang ke hilangan jati diri dan terjebak dalam materialisme serta hedonisme dangkal.

Orang muda juga tak jarang dianggap menyebalkan oleh negara. Mereka adalah warga subkultur yang maunya berseberangan dan memberontak dari budaya mapan. Koes Plus pernah dibui pada pertengahan 1960-an gara-gara menyanyikan lagu-lagu The Beatles yang oleh negara dianggap sebagai racun. Pada era Orde Baru, orang-orang muda memicu peristiwa Malari pada awal 1970-an, dan pada Mei 1998 yang menandai akhir era Orde Baru. Semasa pemerintahan Presiden SBY, Polisi membubarkan konser kelompok punk di Banda Aceh dan menangkapi mereka sebab dinilai barbar. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa di mata negara, orang muda berpotensi dijadikan musuh.

Semua orang pernah muda, tapi ketika menjadi tua, mereka cenderung memandang orang muda dengan kacamata minus. Seolah-olah masa muda mereka identik dengan dosa dan aib, sehingga mereka tak ingin generasi berikutnya mengalami masa penuh gejolak namun tak terlupakan itu. Maka benturanan targenerasi selalu menjadi cerita berulang. Orang tua selalu curiga dan tak percaya pada orang muda, sedangkan yang muda menganggap orang tua itu jadul dan otoriter bagai diktator. Pemberontakan melawan orang tua menjadi kisah heroik dalam kehidupan banyak orang muda: tawuran, narkoba, seks bebas, putus sekolah, geng motor adalah sebagian sisi gelap heroisme tersebut.

Bagaimana seharusnya pendidikan orang muda dilakukan? Sekolah formal jelas bukan tempat ideal untuk itu. Justru di sekolah mereka pertama kali berkenalan dengan banyak hal negatif. Sebagai orang yang pernah muda, orang tua mestinya adalah figur paling tepat dalam mendidik orang muda. Rumah menjadi “sekolah” yang paling pas untuk menanamkan budi pekerti, integritas pribadi, dan etika. Namun ketidakmatangan orangtua justru kerap menjadi sumber tegangan antar generasi karena mereka gamang melihat refleksi diri sendiri saat muda pada anak-anaknya. Segala ketaksempurnaan mereka diproyeksikan ke anaknya sendiri.

Mereka lupa bahwa anak muda harus dilepas, bukan dikekang. Terlebih lagi mereka lupa membekali anak-anak mereka dengan nilai dan prinsip dasar kehidupan yang hakiki saat akhirnya dengan hati berat melepas anak muda itu. Orang muda mencari contoh dan menemukan pada orangtua. Jika orangtua tak menjadi teladan positif, gila sekali untuk berharap anaknya akan tumbuh sebagai orang baik. Yesus saja dapat menjadi sosok mulia dan hebat karena Dia meneladan Bapa-Nya. Bayangkan jika Yesus diutus ke dunia pada era Perjanjian Lama oleh Yahwe yang penghukum dan pencemburu!

Sekolah Katolik boleh mengalami pasang surut, tetapi pendidikan Katolik di rumah tak boleh mengalami gonjang-ganjing. Pendidikan orang muda Katolik adalah proses katekese yang tak pernah berhenti. Hal yang sama semestinya berlaku juga bagi orangtua Katolik. Orang muda dan orangtua Katolik adalah teman seperjalanan dalam mencari dan menemukan diri mereka sendiri sebagai citra Allah.

Manneke Budiman

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 41 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 9 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*