Artikel Terbaru

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Pentakosta
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSeringkali Hari Raya Pentakosta jatuh pada bulan Mei yang adalah bulan Maria. Apakah Bunda Maria memainkan peran dalam peristiwa Pentakosta? Apa arti penting kehadiran Maria di antara para Rasul?

Maria Lourdes Rahaminsari, Malang

Pertama, dalam teks Perjanjian Baru tidak dikatakan apapun tentang peran Maria saat Pentakosta. Tetapi jika mengenal kedalaman hidup rohani Maria, pasti kita bisa mengandaikan peranan Bunda Maria dalam menantikan kedatangan Roh Kudus.

Maria telah dipersiapkan Allah, tumbuh dalam karunia Allah dan dipilih Allah menjadi Ibu dari Putra-Nya. Setelah Malaikat Gabriel menguraikan rencana Tuhan, Maria menyambut rencana Ilahi itu dengan penyerahan total kepada kehendak Allah. Penyerahan ini menunjukkan relasi yang mendalam Maria dengan Roh Kudus. Penyerahan Maria dimahkotai Roh Kudus dengan naungan-Nya (Luk 1:35), sehingga membuahkan dalam rahim Maria kehadiran janin Yesus, bukti kedalaman relasi Maria dengan Roh Kudus.

Relasi Maria dengan Roh Kudus terus berlanjut dan diperdalam pada berbagai peristiwa dan tantangan hidup yang harus dihadapi Maria, misal sikap Yusuf yang pada awal menolak Maria, kata-kata para gembala yang menimbulkan berbagai pertanyaan, dan begitu banyak peristiwa bersama kanak-kanak Yesus pada masa kecil Yesus, Yesus yang hilang di kenisah, dan ketika Yesus tampil di hadapan umum sampai pada pergulatan iman Maria ketika menyaksikan Yesus tergantung di salib. Dalam berbagai peristiwa ini, Maria belajar memahami dan bekerjasama dengan Roh Kudus. Maka bisa dikatakan, Maria sudah sungguh mengenali kehadiran dan cara kerja Roh Kudus dalam aneka peristiwa dan tantangan.

Kedua, kedekatan Maria dengan Roh Kudus membuat orang-orang yang berada di sekitar dia juga dipenuhi Roh Kudus. Contoh pertama ialah Elisabet yang dipenuhi dengan Roh Kudus ketika Maria mengunjungi dan menyapa dia. Roh Kudus juga membuat bayi dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan (Luk 1:41). Karena Roh Kudus, Elisabet bernubuat (Luk 1:42-45). Juga Zakaria dipenuhi dengan Roh Kudus sehingga melambungkan kidungnya (Luk 1:67).

Roh Kudus yang melimpah karena kehadiran Maria juga bisa kita saksikan pada pertemuan Maria dengan Simeon dan dengan Hana. Simeon dibimbing dan dipenuhi dengan Roh Kudus sehingga bernubuat (Luk 2: 21-35). Hal yang serupa terjadi kepada Hana.

Rangkaian peristiwa ini seolah mengatakan bahwa orang-orang yang berada di sekitar Maria sudah mengalami Pentakosta, yaitu dipenuhi dan digerakkan Roh Kudus. Bagi orang-orang itu penyerahan total dan kepekaan Maria kepada Roh Kudus seolah menjadi sarana pembelajaran mengenali, bekerjasama, dan dipenuhi Roh Kudus.

Ketiga, mempertimbangkan buah-buah rohani tersebut, maka kita bisa memastikan bahwa Bunda Maria tidak akan tinggal diam ketika para Rasul sedang menantikan kedatangan Roh Kudus (Kis 1:14). Karena cinta kepada para murid Yesus, pastilah Bunda Maria membimbing para Rasul menjadikan diri peka terhadap kehadiran Roh Kudus dan mampu bekerjasama dengan Roh Kudus. Kehadiran Bunda Maria adalah sarana pembelajaran yang sangat efektif.

Konsili Vatikan II membandingkan peristiwa pewartaan Kabar Gembira dan peristiwa Pentakosta (LG 59; AG 4). Pada pewartaan Kabar Gembira, Roh Kudus yang turun terjadi karena keterbukaan Maria. Buahnya ialah inkarnasi Sang Sabda dalam rahim Maria. Pada Pentakosta, turunnya Roh Kudus terjadi karena keterbukaan para Rasul yang diajarkan Bunda Maria. Buahnya ialah kelahiran Tubuh Kristus, Gereja. Pengalaman dan sikap batin Maria yang sudah bergaul dengan Roh Kudus lebih dari 30 tahun, pastilah ikut membentuk para Rasul untuk membuka hati dan bekerjasama dengan Roh Kudus. Dengan demikian, Maria berperan sebagai pengantara bagi setiap murid pada tataran manusiawi agar Roh Kudus efektif menghasilkan buah.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 20 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 15 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*