Artikel Terbaru

Terjemahan Salam Maria

Terjemahan Salam Maria
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Paus Fransiskus memilih Pesta Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda sebagai pembukaan “Tahun Yubileum Luar Biasa Kerahiman Allah”. Ada dua alasan, pertama, liturgi pesta Bunda Maria mengingatkan awal karya Allah dalam sejarah kemanusiaan. “Setelah dosa Adam dan Hawa, Allah tak ingin meninggalkan manusia sendirian dalam keresahan dosa. Allah memandang Maria, yang suci dan murni dalam kasih (Ef. 1:4), dan memilihnya menjadi Ibu dari Penyelamat manusia.” (Misericordiae Vultus/MV3).

Kedua, pembukaan Tahun Yubileum Luar Biasa Kerahiman Allah pada 8 Desember 2015, juga merupakan peringatan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II, tahapan baru sejarah Gereja Katolik. “Saya ingin agar Gereja tetap merasakan kebutuhan untuk terus menghidupi peristiwa tersebut”, kata Paus.

Paus menunjukkan, kesatuan Bunda Maria dengan Yesus adalah salah satu pusat dalam seluruh sejarah kerahiman Allah. Paus minta, saat pembukaan Tahun Yubileum, ikon kuno Abad XVII, Pintu-Pintu Kerahiman, dari Katedral Gereja Yunani-Katolik Ukraina di Jarosław, Polandia, dibawa ke Vatikan. Ikon itu melukiskan Bunda Maria dan Kanak-Kanak Yesus.

Sejak Abad IV-VI, khususnya di Gereja Timur (Aleksandria), kesatuan Bunda Maria dengan Puteranya sudah menjadi pusat tradisi doa umat. Hal itu tampak dari temuan sebuah pecahan tembikar peninggalan Gereja Koptik sekitar tahun 600-an di Mesir. Pada tembikar itu tertulis doa Bahasa Yunani, “Chaire, kecharitōmenē Maria” atau “Salam, engkau telah dirahmati Maria.” Di Gereja Barat (Romawi), doa semacam itu baru dikenal sekitar Abad VII.

Awal doa Áve Maria (Salam Maria) itu diambil dari salam malaikat Gabriel kepada Maria pada Luk 1:28, “Salam, (engkau yang) telah dirahmati, Tuhan bersamamu. Kemudian, ditambahkan salam dari Elisabet, “Terpujilah engkau di antara para perempuan, dan terpujilah buah rahimmu” (Luk 1:42). Paus Urbanus IV (1195-1264) menambahkan kata “Yesus” setelah “terpujilah buah rahimmu”.

Bagian kedua doa itu, “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami orang yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati” berasal dari tradisi akhir Abad XV dan katekese St Petrus Kanisius SJ (1521-1597). Tahun 1566, seluruh doa Salam Maria itu masuk dalam terbitan Katekese Konsili Trente.

Rahim dan Tubuh
Doa Salam Maria mungkin menjadi doa yang sudah diterjemahkan ke semua bahasa dunia, dan paling sering didaraskan. Terkait dengan Yubileum Luar Biasa Kerahiman Allah, ada sesuatu yang menggelitik dalam terjemahan doa Áve Maria dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa, khususnya ihwal kutipan salam Elisabet pada Luk 1:42.

Pada Salam Maria teks Yunani (teks asli Perjanjian Baru) tertulis, “Eulogēmenē sy en gynaixin kai eulogēmenos ho karpos tēs koilias sou Iesous” (Latin: “Benedícta tu in muliéribus, et benedíctus frúctus véntris túi, Iésus”). Arti kata koilia (Yunani) dan venter (Latin) adalah rahim, kandungan, atau perut.

Dalam terjemahan Salam Maria bahasa Indonesia, tertulis, “terpujilah buah tubuhmu, Yesus”, dan Jawa, “saha pinuji ugi wohing salira Dalem, Sri Yésus”. Dalam hal ini, terjemahan Bahasa Batak Toba dan Minang lebih tepat, yaitu: “jala pasu-pasu do parbue ni bortian mu Yesus” dan Minang, “dan tarpujilah anak kanduangmu, Yesus”.

Dalam budaya Ibrani, rechem (kandungan) dipahami sebagai tempat pertama Allah memulai karya keselamatan-Nya bagi manusia (J. Behm, 1974). Rahim Bunda Maria adalah tempat Kasih Allah bersemayam. Melalui kelahiran Yesus, Kasih tersebut menjadi manusia; Dia hadir di dalam keseluruhan hidup manusia. “Dia itu Imanuel, atau Allah menyertai kita”, demikian kata malaikat kepada Yusuf (Mat 1:23).

Di kalangan budaya Timur Tengah, warna kasih dan kemurahan itu menjadi alasan menyebut Allah sebagai Al-Rahman atau Ar-Rahim. Dari kerangka ini, seruan “Terpujilah buah rahimmu, Yesus” lebih mengungkapkan sebuah pernyataan iman mengenai kehadiran Imanuel dan sejarah kerahiman Allah. Untuk biasa menyerukannya, dibutuhkan metanoia.

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 20 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 15 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*