Artikel Terbaru

Peter C Aman OFM: Sukacita Keluarga, Sukacita Gereja

Peter C. Aman OFM
[NN/Dok.HIDUP]
Peter C Aman OFM: Sukacita Keluarga, Sukacita Gereja
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comPaus Fransiskus tidak menawarkan program atau rencana pastoral, tetapi refleksi mengenai tantangan pastoral perkawinan masa kini dan pastoral yang menampilkan belas kasih Allah.

Michael Coren, penulis buku The future of Catholicism (2013) menyatakan bahwa di pundak Paus Fransiskus ada begitu banyak harapan akan perubahan dalam Gereja. Masyarakat sekuler dan warga Gereja menaruh harapan perubahan, antara lain dalam hal perkawinan atau keluarga. Ada banyak isu terkait perkawinan, seperti cerai dan kawin lagi, pasangan sejenis (homoseksual dan lesbian), pelayanan sakramen kepada pasangan cerai dan pasangan sejenis, serta yang lain. Kelompok progresif dan sekular berbagi optimisme bahwa di bawah Paus Fransiskus pandangan dan Ajaran Gereja berkaitan dengan pokok-pokok itu akan diperbaharui. Betulkah demikian?

Berhubungan dengan tema keluarga dan perkawinan, sudah dua kali diadakan Sinode Para Uskup. Setiap sinode menghasilkan “relatio” yang tidak mengikat Paus, namun dia dapat memanfaatkan ketika memberikan tanggapan atas hasil sinode. Nasihat Apostolik Amoris Laetitia (AL) adalah tanggapan Paus atas hasil sinode tentang keluarga.

Paus menyadari, pada masa kini lembaga perkawinan sedang mengarungi gelombang tantangan dahsyat dari ideologi-ideologi serta gaya hidup yang berpotensi memperlemah perkawinan Katolik. Sebagaimana lazimnya, Paus setia mengacu kepada Ajaran Gereja yang sudah mentradisi, serta menawarkan kembali sebagai referensi kebenaran untuk diyakini. Tapi Paus Fransiskus dalam AL, bahkan mengutip Martin Luther King, para penyair serta pemikir seperti Josef Pieper, Erich Fromm dan Gabriel Marcel. Pada bagian awal Paus menyajikan konteks aktual di mana lembaga perkawinan berada yakni hasrat melakukan perubahan, yang di satu pihak mengabaikan basis refleksi teologis yang mendalam, dan di lain pihak ingin menyelesaikan persoalan-persoalan perkawinan dengan begitu saja mengaplikasi aturan-aturan umum dengan acuan kebenaran teologis partikular.

Sulit menampik arti penting lembaga keluarga sebagai persekutuan cinta kasih dalam Gereja. Sukacita dalam hidup keluarga, bahkan disebut Paus sebagai sukacita Gereja. Dengan mudah kita teringat akan Familiaris Consortio dari Yohanes Paulus II yang menyebut keluarga sebagai ecclesia domestica (Gereja Keluarga). Gereja meyakini kebenaran bahwa lembaga perkawinan didirikan Allah, dan karena itu lembaga perkawinan tak bisa diumpamakan dengan kebersamaan, persekutuan atau bentuk hidup bersama yang mengabaikan unsur-unsur konstitutifnya, seperti pria dan perempuan dasar pokok untuk menjadi suami istri; dimensi unitif dan prokreatif, serta kesetiaan timbal balik dan tak terpisahkan sampai akhir hayat.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*