Artikel Terbaru

Devosan Kerahiman Allah

Devosan Kerahiman Allah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comApakah seorang devosan kerahiman Allah St Faustina bisa juga mempunyai devosi kepada Bunda Maria? Apakah penggabungan ini tidak terlalu merepotkan?

Maria Isfourini, Malang

Pertama, seorang devosan kerahiman Allah boleh, bahkan harus mempunyai devosi kepada Bunda Maria. Hubungan erat antara kedua devosi itu dikatakan secara eksplisit oleh Kongres Kerahiman Allah I yang diadakan pada 4-6 Oktober 2013 di Gadog, Bogor dengan tema utama “Hidup dalam Kerahiman-Nya”. Salah satu kesepakatan mengatakan, “Setiap devosan Kerahiman Allah sudah selayaknya mempunyai devosi khusus pula kepada Santa Perawan Maria.”

Penggunaan ungkapan “sudah selayaknya” mau menekankan ada kedekatan alami antara tema kerahiman Allah dan tema Bunda Maria. Artinya berdevosi kepada Bunda Maria bukanlah sesuatu yang baru yang ditambahkan kepada devosi Kerahiman Allah, tetapi merupakan konsekuensi logis yang dengan sendiri akan muncul jika devosi Kerahiman Allah dilakukan secara benar. Maka Kongres menekankan lebih lanjut, “Banyak orang masa kini menjauhkan diri dari Bunda Maria dan mengabaikan devosi kepadanya. Namun komunitas Kerahiman Allah janganlah tergoda untuk membiarkan Bunda Maria tidak berperan dalam hidup mereka.” (Refleksi Kongres Kerahiman Allah, hlm 28).

Kedua, kedekatan kedua tema itu nampak jelas dalam gelar yang diberikan Gereja kepada Bunda Maria, yaitu Maria Bunda Kerahiman Allah (bdk. HIDUP No. 18, 1 Mei 2016). Gelar ini didasarkan kepada kenyataan bahwa Yesus, yaitu wujud kelihatan Kerahiman Allah Bapa yang tak kelihatan itu, dilahirkan Bunda Maria. Kongres menulis, “Komunitas Kerahiman Allah tidak pernah boleh lupa bahwa Putra Allah sendiri dipercayakan kepada Maria, bukan karena Maria hebat secara duniawi, melainkan karena Allah mau supaya setiap manusia beriman menerima St Maria sebagai ibunya,” (RKKI, hlm. 28-29).

Saat penyerahan Bunda Maria pada detik-detik terakhir sebelum wafat-Nya di salib, dipandang sebagai saat keramat, maka merupakan wasiat terakhir Yesus sebelum wafat. “Sepanjang masa Gereja yakin bahwa penyerahan total Bunda Maria kepada umat manusia itu terjadi beberapa saat menjelang wafat Yesus di salib. “Ini Ibumu!” sabda Yesus kepada murid terkasih yang ada di dekat salib-Nya. Pada saat itu, Yesus sudah tidak memiliki apa-apa lagi, sebab pakaian-Nya pun dirampas. Tetapi pada saat itulah Yesus memutuskan untuk menyerahkan bunda-Nya sendiri kepada Gereja,” (RKKI, hlm. 29).

Ketiga, devosi kepada Maria bertujuan meneladani keutamaan-keutamaan Maria. Keterbukaan dan penyerahan total Maria menyebabkan kerahiman Allah nampak sangat jelas dalam hidupnya. Sesudah mengalami kerahiman Allah secara berlimpah, Maria menjadi penyalur kerahiman Allah melalui perannya sebagai ibu atau pengantara. Kongres juga menegaskan dua ungkapan devosi Marian yang utama, yaitu doa rosario dan doa Malaikat Tuhan. Juga penampakan-penampakan Maria dipandang sebagai bukti nyata kerahiman Allah melalui Bunda Maria.

Keempat, perlu dibedakan antara melakukan devosi kepada Bunda Maria dan mengikuti organisasi Marian, misal Legio Maria. Tentu akan lebih merepotkan jika seseorang mengikuti dua organisasi dengan semua kegiatan secara bersamaan, misal Persekutuan Doa Kerahiman Allah dan Legio Maria. Perlu pertimbangan yang masak jika seorang devosan Kerahiman Allah ingin bergabung juga menjadi anggota Legio Maria yang aktif. Rapat rutin dan tugas kunjungan sebagai legioner tentu akan menambah kesibukan. Di lain pihak, devosi kepada Bunda Maria tetap bisa dilakukan tanpa harus secara formal menjadi anggota organisasi Marian, atau menjadi anggota auksilier dari Legio Maria. Jadi, devosan Kerahiman Allah harus mempunyai juga devosi kepada Bunda Maria, tetapi tidak harus langsung terlibat dalam organisasi Marian tertentu.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 19 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 8 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*