Artikel Terbaru

Simon Botaama Berybe: Tak Lelah Berharap dan Berjuang

Simon Botaama Berybe.
[Emanuel Dapa Loka]
Simon Botaama Berybe: Tak Lelah Berharap dan Berjuang
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comBerkat abu gosok, dia bisa menyambung hidup keluarganya serta membeli obat untuk sang istri. Tuhan telah memberi kaki-tangan, maka harus kerja keras.

Kulitnya tidak putih. Badannya mungil dengan langkah yang tidak tegas lagi. Maklum, dia akan berusia 82 tahun pada Desember tahun ini. Meski begitu, Simon Botaama Berybe harus bekerja keras demi menyambung hidup keluarganya. Setiap hari, dalam kerentaannya, pria asal Lewukluwok, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menarik gerobak dan menjajakan abu gosok ke pelanggannya.

Simon, demikian sapaannya, berjalan mulai dari Babelan Kota, melintasi Jalan Perjuangan menuju Perumahan Taman Kebalen Indah, Bekasi, Jawa Barat. Setelah berkeliling, mengantar abu gosok ke warung-warung langganannya di perumahan itu, dia menuju Perumahan Taman Wisma Asri untuk tujuan yang sama.

Usia uzur membuat kakek satu cucu ini tak bisa lama hilir-mudik ke kompleks perumahan. Dia harus pulang untuk istirahat dan menjaga istrinya yang dirundung rematik. “Saya tak berani pulang sore, apalagi sampai gelap. Saya pernah nabrak orang dengan gerobak karena sudah tak bisa melihat dengan jelas lagi,” kenang umat Paroki St Clara, Bekasi Utara ini.

Pabrik Susu
Pada 1999, sebuah perusahaan susu di Tanah Abang, Jakarta berganti manajemen. Alih-alih ada perbaikan kesejahteraan hidup karyawan, perusahaan itu justru memangkas gaji para pekerjanya. Simon tak luput dari kebijakan yang diterapkan manajemen baru itu. Gaji 1,2 juta yang dia terima tiap bulan sebagai satpam, melorot amat jauh menjadi Rp 200-300 ribu per bulan.

Simon bersama sejumlah karyawan menolak aturan dari pimpinan tempatnya bekerja. Buntut penolakan itu, Simon dirumahkan untuk selamanya. Pemecatan membuat fondasi ekonomi keluarganya goyah. Simon bingung, dari mana dia bisa menyambung hidupnya dan keluarga? Keterampilan dia tak punya; pendidikannya pun hanya sampai kelas tiga Sekolah Rakyat. Apalagi tubuhnya telah termakan usia. “Terserah Tuhan saja,” ungkapnya pasrah.

Selang beberapa waktu tetangga menawari Simon untuk menjual abu gosok. Usaha itu berhenti sejak orangtua tetangga itu meninggal. Gerobak peninggalan almarhum dibeli Simon dengan harga Rp 65 ribu. Besoknya, Simon mulai mengais rejeki dengan menjual limbah pembakaran dari tumbuhan itu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*