Artikel Terbaru

Malu Buat Tanda Salib

Malu Buat Tanda Salib
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDear Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga, saya Marta, 43 tahun, dari Malang. Satu kebiasaan umat Katolik adalah membuat tanda salib saat makan. Kebiasaan ini selalu dipraktikkan dalam keluarga kami. Tidak saja membuat tanda Salib, tapi selalu berdoa sebelum dan sesudah makan. Suatu saat ketika kami makan di luar rumah, saya minta anak saya (18 tahun) memimpin doa. Namun dia menolak membuat tanda salib. Doanya pun diucapkan pelan-pelan dan hampir tak kedengaran. Saya dan suami bingung. Ada apa dengan anak kami, kok tiba-tiba memimpin doa tanpa buat tanda salib? Ternyata dia malu membuat tanda salib di depan umum. Bagaimana memberi penjelasan terhadap anak kami dan sebagai orangtua, apa yang perlu kami buat? Terimakasih.

Marta, Malang

Ibu Martha yang baik, pertama, saya ingin memuji Ibu yang memperhatikan kehidupan rohani keluarga. Ibu melakukan hal yang terpuji karena tidak hanya puas dengan hidup rohani pribadi, melainkan juga memikirkan hidup rohani orang-orang serumah. Keselamatan dapat datang dari sikap seperti yang ibu lakukan di dalam rumah.

Membuat tanda salib adalah kekhasan tradisi Katolik. Semua orang Kristiani sebenarnya mempunyai pengertian khusus mengenai membuat tanda ini, tetapi cara mengekspresikannya berbeda-beda. Orang Katolik cenderung mengekspresikan secara terbuka kristianitas dan imannya melalui membuat tanda salib. Dengan tanda ini, kita memperoleh tanda kemenangan kita, yaitu Salib Tuhan Yesus. Dengan salib itulah kita ingin memuji Allah Tritunggal yang memiliki semua ini. Kita adalah pengikut yang tidak malu menyebut dan menyatakan kehadiran- Nya melalui tanda yang sangat sederhana.

Pertama, berilah penjelasan yang memadai untuk anak kita. Setiap anak mempunyai kemampuan menangkap ajaran yang disampaikan. Kita pun demikian. Membuat tanda salib adalah kewajiban sebagai tanda berdoa bagi orang Katolik. Maka sebaik-nya masalah ini ditempatkan pada kemampuan seseorang untuk mengerti ajaran iman yang dimilikinya. Jangan menilai buruk anak Anda dulu; berikanlah ruang baginya untuk belajar. Berkomentar atau memberi reaksi atas ketidakberaniannya boleh saja, asal tidak sampai menghina.

Keberanian adalah soal manusiawi. Sebagai anak yang masih remaja, pasti ia mengalami situas penyesuaian diri dengan lingkungan yang sangat dalam. Ia tidak dapat bersikap sembarangan, meskipun itu hanya masalah membuat tanda salib. Proses penyesuaian diri sering berkaitan dengan keberanian untuk merasa malu. Anak lebih membutuhkan orangtuanya mengerti proses ini sambil memberitahukan sikap sebenarnya, tanpa merendahkan, tapi tetap memberi informasi agar anak tahu apa yang benar.

Krisis identitas dan krisis percaya diri bisa terjadi. Kalau itu dialami, hal itu bisa sampai mempengaruhi ekspresi iman. Tetapi ini tidak selalu berkaitan dengan hilangnya iman. Ia hanya malu akan ekspresi yang berbeda dengan kebanyakan teman atau orang-orang di sekitarnya. Cobalah Anda buktikan jika ia berada di Gereja atau di rumah, tentu berbeda ekpresi dan keberaniannya, bukan?

Cobalah mencari contoh-contoh kisah dan peristiwa yang mirip dengan anak Anda. Biarkan ia mencerna cerita keberanian dan kepercayaan yang dalam itu. Jangan memaksanya untuk segera berhasil. Menurut saya, ia sedang berproses menjadi makin dewasa. Jangan ditinggalkan atau dianggap remeh, melainkan didampingi. Dengan proses pendampingan dan kebersamaan ini, justru hubungan ibu dan anak sekaligus terbangun dalam bingkai iman yang indah, yang dihindari adalah pemaksaan atau merendahkannya.

Di atas semua itu, Anda sendiri harus membuktikan bahwa Anda juga seorang yang berani menampilkan diri sebagai orang Katolik yang wajar dan tidak berlebihan. Berikan contoh dan bukti bahwa membuat tanda salib di muka umum itu tidak apa-apa dan bahkan sesuatu yang wajar dan membanggakan. Rasa bangga akan mengalahkan rasa takutnya. Semoga berhasil. Tuhan memberkati Ibu dan anak Anda yang sedang berproses itu.

Alexander Erwin Santoso MSF

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 18 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 1 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*