Artikel Terbaru

Penghormatan Abu Kremasi

Penghormatan Abu Kremasi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comJika makam digali ulang, bagaimana kita harus memperlakukan tulang-belulang? Apakah sisa jenazah boleh dikremasi? Benarkah abu kremasi dilarang dilarung di laut?

Indriani Sutedja, Banyuwangi

Pertama, untuk sisa-sisa jenazah yang digali ulang berlakulah peraturan yang sama seperti kepada jenazah orang yang meninggal dunia. Keluhuran manusia yang diciptakan sebagai citra Allah, tercermin dari seluruh pribadinya, badan jiwa dan roh (1 Tes 5:23). Juga sesudah kematian, sisa-sisa jenazah harus tetap dihormati karena keluhuran manusia itu.

Penghormatan terhadap sisa jenazah juga dituntut oleh butir iman tentang kebangkitan badan. Melalui badan yang kasat mata, termasuk tulang-belulang itu, manusia telah dikuduskan oleh sakramen-sakramen dan dijadikan “bait Roh Kudus” (1 Kor 6:19). Karena itu kita perlu menghormati tulang-belulang itu sebagai ungkapan kasih dan doa mohon kedamaian dan kebahagiaan bagi orang yang sudah meninggal dunia itu. Penghormatan ini bukan untuk memuja sisa-sisa jenazah, bukan untuk menghalau roh-roh jahat ataupun menjauhkan arwah orang itu agar tidak mengganggu. Penghormatan ini adalah ungkapan persekutuan kita dengan orang yang sudah meninggal dunia itu dan kepedulian kita untuk kedamaian dan kebahagiaannya di alam baka. Penghormatan sisa jenazah ini terutama mengungkapkan kepercayaan dan harapan kita akan kebangkitan badan pada hari kiamat, “sebab bagi umat beriman hidup hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan” (Prefasi Arwah 1). Maka, perlu diadakan doa baik pada saat penggalian jenazah maupun pada tahap-tahap selanjutnya, seperti hal orang meninggal dunia.

Kedua, sesuai dengan Ajaran Gereja tentang orang meninggal dunia, tulang-belulang sisa jenazah boleh dikremasi. Katekismus menegaskan, “Gereja mengizinkan kremasi, sejauh hal itu tidak ingin menyangkal kepercayaan akan kebangkitan badan” (KGK 2301; bdk. KHK Kan 1176 #3). Izin untuk kremasi ini tetap harus disertai iman kepada kebangkitan badan dan keluhuran badan duniawi kita seperti yang sudah diuraikan di atas.

Ketiga, dalam pandangan Gereja, abu sisa kremasi harus diperlakukan dengan penuh hormat, sama seperti perlakukan terhadap tubuh manusia. Hal ini dikatakan dalam Ordo Exsequiarum (Tata Cara Pemakaman Katolik) yang diterbitkan Kongregasi Ibadat pada 22 Januari 1966. Ordo Exsequiarum memberikan tiga kemungkinan tentang bagaimana memperlakukan abu sisa kremasi itu. Satu, Abu kremasi itu, biasa disimpan dalam guci kecil, bisa dikubur di pemakaman seperti jenazah biasa. Gereja sangat menghargai kebiasaan saleh pemakaman ini (OE 417). Dua, Abu kremasi dalam guci diistirahatkan di kolumbarium. Kolumbarium adalah rumah abu tempat menyimpan abu kremasi, biasa berbentuk kotak-kotak seperti apartemen-apartemen kecil (OE 417). Tiga, Abu kremasi bisa juga dikuburkan “di dasar laut” (OE 406, #4). Biasa guci berisi abu kremasi itu dibenamkan “di dasar laut”, artinya guci itu diturunkan ke dasar laut dan ditinggalkan di sana. Gereja tidak memberikan preferensi tentang cara mana dari ketiga kemungkinan itu yang paling dianjurkan. Karena itu, pemilihan cara diserahkan kepada keluarga yang bersangkutan.

Keempat, yang dilarang Gereja ialah menaburkan abu kremasi itu dari udara atau di laut. Juga tidak diperkenankan memisah-misahkan abu kremasi itu ke beberapa wadah. Kenyataan bahwa abu kremasi itu akan dilarutkan air laut dan tersebar ke mana-mana, tidak sama dengan penebaran abu jenazah itu dari udara atau di laut. Abu jenazah yang larut sebenarnya juga terjadi jika jenazah dimakamkan. Air tanah akan melarutkan abu jenazah yang sudah membusuk itu dan menyebarkan ke sekeliling makam tersebut. Penyebaran secara sengaja dilarang, tetapi penyebaran secara alami oleh kekuatan alam diperbolehkan.

Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

1 Comment

  1. Melarung abu menurut cara Gereja Katolik adalah dengan cara menenggelamkan guci ke dalam laut. Kita bisa mengenang mereka dengan mendoakan dan menaburkan bunga di laut.Saya selalu ke Pantai pada waktu ChengBeng.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*