Artikel Terbaru

Gaji Suami Habis untuk Mertua

Gaji Suami Habis untuk Mertua
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSalam kenal untuk Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga. Saya Melisa dari Jakarta, telah menikah 10 tahun dan awalnya pernikahan kami bahagia. Namun saat ini, saya merasakan ketidakadilan karena hampir semua pendapatan suami selalu dikirim untuk orangtuanya. Sementara saya dan kedua anak kami hanya mendapat “sisa” gaji suami. Beberapa kali hal ini terjadi dengan alasan orangtua tidak bekerja dan mereka butuh uang untuk kesehatan dan sebagainya. Kalau demikian, seharusnya orangtua saya juga harus dikirim biar adil. Saya merasa terlalu banyak intervensi mertua dalam keluarga kecil kami. Saya selalu bersikap bijak menanggapi hal ini, tetapi lama-lama stres juga, apalagi saya sendiri sudah tidak bekerja karena ingin fokus merawat dua anak kami. Kira-kira apa yang bisa saya jelaskan kepada suami agar dia bisa memahami? Terima kasih.

Melisa, Jakarta

Ibu Melisa yang terkasih, semoga kabar Ibu dalam keadaan baik. Persoalan finansial adalah persoalan mendasar dalam sebuah keluarga yang tidak hanya menyangkut bagaimana memenuhi standar hidup yang layak. Namun persoalan tersebut juga erat berkaitan dengan masalah kepercayaan, tanggung jawab, dan juga perhatian.

Waktu 10 tahun menjalani kehidupan keluarga yang bahagia masih belum menjelaskan bagaimana pengelolaan selama ini. Apakah selama masa tersebut sudah ada “pembagian” gaji suami untuk keluarga inti dan orangtuanya? Ataukah pada saat itu, Ibu juga bekerja sehingga persoalan gaji tidak menjadi persoalan besar karena kehidupan ekonomi keluarga ditopang oleh suami dan istri? Beberapa kali terjadi “pembagian” gaji suami kepada orangtuanya, berarti hal itu tidak terlalu sering. Terkait dengan hal tersebut, masih diperlukan klarifikasi mengenai kondisi riil keluarga.

Saya akan mencoba menjawab permasalahan yang Ibu sampaikan dengan beberapa poin yang mungkin bisa dikaji dan didiskusikan lebih dalam. Pertama, sediakan waktu khusus untuk membahas masalah ini. Pembahasan mengenai topik ini tidak bisa dilakukan secara sambil lalu atau bahkan disertai dengan suasana hati yang emosi. Perlu situasi khusus yang memang disediakan untuk hal tersebut agar semua pembicaraan terkait dengan hal itu dapat didiskusikan dengan hati yang lebih jernih.

Kedua, mencoba memahami situasi suami yang mungkin juga sedang galau antara keluarga inti dan kondisi orangtuanya. Tentu hal ini bagi suami adalah pilihan yang sama-sama sulit karena keduanya adalah orang-orang yang ia cintai.

Ketiga, keadilan dalam konteks pembagian gaji tidak bisa mengacu pada pemahaman bahwa kalau mertua diberi, maka orangtua saya juga berhak untuk diberi juga. Pemahaman ini kurang begitu tepat. Tentu masalah keadilan juga tergantung pada siapa yang lebih membutuhkan dan bagaimana sumber tersebut dapat dipenuhi oleh yang membutuhkan.

Keempat, pembahasan mengenai “pembagian” gaji juga perlu disertai kalkulasi kebutuhan yang obyektif sehingga jika memang sungguh dibutuhkan bantuan kepada orangtua, mungkin perlu ada pengetatan anggaran keluarga, terutama jika orangtua tidak lagi produktif. Perlu melibatkan keluarga besar suami jika memang ada saudara kandung suami.

Kelima, jika memang kondisinya sudah sangat mepet, artinya ketergantungan orangtua sudah sedemikian berat karena memang tidak ada dukungan finansial, ada kemungkinan Ibu perlu mempertimbangkan untuk mengambil pekerjaan tambahan guna menunjang ekonomi keluarga.

Meskipun semua ini keputusan berat, komunikasi dengan hati dingin dan mengedepankan suasana kehangatan suamiisteri akan sangat penting. Saat ini mungkin suami juga bimbang sehingga perhatian dan saran isteri pun akan ia butuhkan meskipun tidak diungkapkan secara gamblang. Yang paling penting adalah mendiskusikan dengan suasana hangat dan dekat.

Th. Dewi Setyorini

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 20 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 15 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*