Artikel Terbaru

Mgr Ignatius Suharyo: Membarui Pastoral Keluarga

Uskup Agung Jakarta dan Uskup Ordinariat Militer Indonesia Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo saat ditemui di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Cut Meutia Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 9/11.
[HIDUP/Y. Prayogo]
Mgr Ignatius Suharyo: Membarui Pastoral Keluarga
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAmoris Laetitia menjadi sebuah rangkuman dua Sinode Para Uskup tentang keluarga yang digelar Oktober 2014 dan Oktober 2015. Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo yang mengikuti dua sinode itu mengatakan, “Paus mengajak semua pelayan Gereja agar selalu dekat dengan keluarga, apapun keadaan mereka, bahkan dengan keluarga-keluarga yang merasa jauh dari Gereja.”

Berikut petikan wawancara dengan Mgr Suharyo yang juga Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI):

Apa tanggapan Monsinyur terhadap Ekshortasi Apostolik ini?

Tanggapan saya sederhana, bersyukur. Yang baru dalam ekshortasi ini lebih-lebih menyangkut sikap dasar Gereja terhadap perkawinan dan hidup berkeluarga. Gereja menyadari benar, betapa kompleks realitas perkawinan dan hidup berkeluarga. Paus mengajak semua pelayan Gereja agar selalu dekat dengan keluarga, apapun keadaan mereka, bahkan dengan keluarga-keluarga yang merasa jauh dari Gereja; memahami keadaan mereka, mendampingi, terbuka, terutama terhadap keluarga atau perkawinan yang terluka. Istilah teknis yang selalu muncul dalam sinode dan naskah sinode adalah “logika integrasi” (No. 311). Dokumen ini tak hanya berisi konsep dan ajaran, tetapi terhubung dengan kenyataan dan masalah hidup berkeluarga dan perkawinan. Judul ekshortasi ini juga menegaskan nada positif dari dokumen ini.

Apakah ada Hukum Gereja yang berubah?

Amat menarik diperhatikan, pada 8 Desember 2015 Paus Fransiskus mengeluarkan Motu Proprio Mitis Iudex Dominus Iesus, Tuhan Yesus, Hakim yang lembut, untuk Gereja Latin. Isinya mengenai pembaruan prosedur anulasi (menyatakan ikatan perkawinan tertentu tidak sah/ tidak ada ikatan). Prosedur baru itu menggantikan kanon dalam Kitab Hukum Kanonik No. 1671-1691. Para ahli Hukum Gereja Indonesia sudah menerjemahkan dan memasukkan dalam edisi KHK yang paling baru. Bagi Gereja Timur judul Mitis et Misericors Iesus, Yesus yang lembut dan rahim. Pada tanggal itu pula Paus mengawali Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah, pesannya amat jelas.

Hal apa saja yang kontekstual bagi Gereja Katolik di Indonesia?

Baik jika disampaikan Daftar Isi dokumen tersebut, lalu pembaca dapat menjawab sendiri pertanyaan ini. Garis besar isi dokumen ini adalah sebagai berikut; sesudah pendahuluan (No 1-7), pada Bab I Paus menyampaikan refleksi mengenai keluarga berdasarkan Kitab Suci (No 8-30). Bab II berisi pengalaman dan tantangan hidup berkeluarga (No. 31-57). Sesudah itu, Bab III diuraikan hal-hal mendasar Ajaran Gereja tentang perkawinan dan keluarga (No 58-88). Bab IV berjudul “Cinta Dalam Perkawinan” (No 89-164). Mengenai cinta, Paus memberikan peneguhan atau hiburan. Paus mengatakan, tidak perlu menempatkan beban yang terlalu berat kepada dua pribadi yang terbatas untuk menampakkan sepenuhnya kesatuan kasih antara Kristus dan Gereja (No 122). Bagian ini diakhir dengan refleksi transformasi cinta. Komitmen awal mesti terus diperbarui (No 163).

Bab V berjudul “Cinta yang Berbuah” (No 165-198). Bagian ini memberikan ulasan rohani dan psikologis mengenai menyambut hidup baru, cinta ayah dan ibu, budaya perjumpaan dan masih banyak hal lagi. Bab VI memberikan beberapa perspektif pastoral (No. 199-258). Bagian ini berisi hasil dua sinode mengenai keluarga dan katekese Paus Fransiskus, antara lain ditegaskan bahwa tugas pastoral yang paling penting berkaitan dengan keluarga adalah meneguhkan kasih dan membantu kesembuhan luka-luka mereka (No. 246). Menyusul Bab VII yang berbicara pendidikan anak (No. 259-290), yang menyangkut pembentukan sikap etis, belajar disiplin, pendidikan seksualitas, pewarisan iman serta keluarga sebagai sekolah kemanusian dan iman yang utama. Bab VIII berisi ajakan menjadi saksi-saksi kerahiman dan menjalankan penegasan pastoral dalam keadaan yang tak sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan.

Paus menggunakan tiga kata; menuntun, menegaskan (discernment), dan mengintegrasikan. Ketiga sikap itu sangat mendasar dalam menanggapi keadaan yang tidak wajar, rentan, dan kompleks. Menurut Paus, “Gereja seringkali seperti rumah sakit lapangan” (No 291). Bagian terakhir bab ini mengupas “logika pastoral kerahiman”. Bab IX atau bab terakhir berjudul “Spiritualitas Perkawinan dan Hidup Berkeluarga” (No 313-325). Ekshortasi ini berakhir dengan doa kepada Keluarga Kudus.

Bagaimana sebaiknya umat menanggapi Ekshortasi Apostolik ini?

Harapannya ekshortasi ini dibaca tidak dengan tergesa-gesa dan jangan terlalu cepat bertanya “praktisnya bagaimana?” Terutama bagi para pimpinan Gereja, ekshortasi ini mengajak semua membarui sikap terhadap keluarga. Sikap dasarnya adalah menemani, mengintegrasikan, tetap dekat dengan siapapun yang menderita karena cinta yang terluka.

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 19 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 8 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*