Artikel Terbaru

Veronika Sedo Barek: TKI Peduli Pendidikan

Veronika Sedo Barek bersama anak-anak.
[NN/Dok.Pribadi]
Veronika Sedo Barek: TKI Peduli Pendidikan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comIa sadar, dirinya hanyalah seorang buruh kasar di Negeri Jiran. Tapi dari tangannya yang kasar lahir sekolah bagi anak-anak tenaga kerja Indonesia di negeri tetangga.

Yang saya lakukan hanya langkah kecil,” ujar Veronika Sedo Barek, pendiri sekolah bagi anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Vero, demikian panggilan akrabnya, menuturkan hal ini seusai menerima penghargaan Hasan Wirajuda Perlindungan Warga Negara Indonesia Award (HWPA) 2015, lalu.

Ya, berkat kegigihannya memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak tenaga kerja Indonesia di Negeri Jiran sejak 2003, ia mendapat penghargaan dari Kementerian Luar Negeri RI. Perempuan kelahiran Adonara, NTT, 24 Agustus 1972 ini merintis sebuah sekolah bagi anak-anak TKI di Kampung Patikang Keningau, Kinabalu, Malaysia Timur.

Mendirikan sekolah
Setelah tamat Sekolah Menengah Atas, Vero menikah dengan Marthinus Talelu. Satu tahun berselang, anak mereka lahir. Lantaran kesulitan ekonomi, sang suami memilih merantau ke Sabah, Malaysia. Ketika putranya berusia satu tahun tujuh bulan, suaminya meminta Vero menyusul ke Sabah.

Desember 1991, Vero menginjakkan kaki di Sabah. Vero menyaksikan kesulitan yang dialami sang suami yang bekerja sebagai buruh kasar penanam tembakau. Vero pun bertekad bekerja menjadi asisten rumah tangga. Mula-mula, sang suami menolak keinginan Vero. “Tapi saya harus mengirim uang ke Flores,” ucap Vero memberi alasan. Akhirnya, sang suami memberikan ijin.

Sejak 1992, Vero bekerja sebagai asisten rumah tangga. Dua tahun berselang, pasangan ini dianugerahi putra kedua yang diberi nama Habel Goban. Demi memelihara anak, Vero banting setir menjadi penggarap kebun sayur.

Ketika Habel berusia enam tahun, Vero menyekolahkan di Sekolah Kebangsaan Malaysia Bunga Raya Keningau. Namun pada 2003, Vero menerima kenyataan pahit. Habel tidak bisa melanjutkan pendidikan, lantaran ada aturan bagi anak-anak yang bukan warga negara Malaysia tidak bisa belajar di sekolah Kerajaan Malaysia, kecuali memiliki paspor pelajar. “Saya berusaha mendapatkan paspor pelajar itu, tapi tidak berhasil, karena tidak bisa memenuhi beberapa persyaratan,” ujar Vero mengenang.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*