Artikel Terbaru

Menase Dogopia: Kristoforus dari Waitapa Timika

Menase Dogopia
[Iba Gujangge]
Menase Dogopia: Kristoforus dari Waitapa Timika
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSejumlah uskup, imam, frater, dan katekis pernah ia pikul di pundaknya. Pekerjaan memikul orang ini seolah mengingatkan pada kisah St Kristoforus.

Napas Uskup Timika, Mgr John Philip Saklil mulai tersengal-sengal. Padahal perjalanannya menuju Stasi Waitapa, Paroki Salib Suci Madi masih setengah hari lagi. Dari keuskupan, Mgr Saklil terbang dengan helikopter ke Paniai. Lalu berjalan kaki sejauh 60 kilometer menuju Stasi Waitapa.

Jalanan licin, jurang curam, serta iklim dingin yang menggigit menjadi litani tantangan yang dihadapi oleh sang uskup dan para pelayan pastoral (imam, frater, suster, bruder, dan katekis) di sana. Tak pelak, umat menyebut Stasi Waitapa sebagai “stasi padang gurun”, karena medan tempuh ke sana sangat menggetarkan bagi yang belum terbiasa.

Di tengah perjalanan menuju Stasi Waitapa, Mgr Saklil bertemu Menase Dogopia, yang telah menantinya. Mgr Saklil ragu begitu Menase menawarkan diri untuk memikulnya. “Bapak, berat saya ini 100 kilogram. Bapak bisa pikul saya kah?” tanya Mgr Saklil meragukan. “Saya pung berat juga 100 kilogram, Aita (Bapak–Red). Aita naik sudah ke pundak, supaya saya pikul,” jawab Menase dengan penuh antusias.

Dipilih Uskup
Uskup kelahiran Kokonao, yang baru merayakan ulang tahun ke-56 pada 20 Maret lalu itu bukanlah orang pertama yang duduk di atas pundak Menase. Orang yang pertama kali merasakan kekokohan pundak Menase adalah Uskup Emeritus Jayapura, Mgr Herman Ferdinandus Maria Münninghoff OFM.

Suatu hari sekitar tahun 1998, Paroki Madi menggelar acara perpisahan dengan uskup kelahiran Woerden, Belanda, 30 November 1921. Menurut tradisi masyarakat setempat, uskup bebas memilih laki-laki dewasa untuk memikulnya. Pilihan Mgr Münninghoff jatuh kepada Menase. Pria kelahiran Ipakie, 14 April 1969 itu membawa sang uskup dari Lapangan Teo Makai ke Gereja St Yusup, Enarotali, sekitar 500 meter jauhnya.

Pengalaman perdana memikul uskup amat berkesan bagi bapak delapan anak ini. Ia tak menyangka, uskup memilih dirinya meski tubuhnya kotor dan bau. “Saya sangat hati-hati berjalan dan memikul, tidak mau melihat ke atas, takut Aita Uskup jatuh,” kenangnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*