Artikel Terbaru

St Eulalia dari Mérida: Martir Muda dari Barcelona

Makam St Eulalia di Basilika Barcelona, Spanyol
[wikiwand.com]
St Eulalia dari Mérida: Martir Muda dari Barcelona
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMeski usianya pendek, ia berani menentang pemerintah penyembah berhala demi keutamaan hidup dan mempertahankan iman. Demi Kristus, ia mati dibakar.

Hari masih pagi. Seorang gadis remaja menginjakkan kaki di Emerita, Ibukota Lusitania (kini Mérida, Spanyol). Dulu, Mérida masuk Provinsi Lusitania, salah satu kota terpenting Kekaisaran Romawi. Di sana banyak peninggalan Romawi, seperti Gapura Trajan. Trajan adalah Kaisar Romawi yang berkuasa tahun 98-117. Kini Provinsi Lusitania dikenal dengan nama Badajoz di Keuskupan Mérida Badajoz, Spanyol.

Gadis itu tak sendirian. Ia ditemani bundanya. Tujuannya satu, ingin bertemu Kaisar Romawi penyembah berhala, Diocletianus (244-311). Diocletianus menjadi Kaisar Romawi tahun 284-305. Di hadapan Sang Kaisar, gadis itu dengan lantang menolak titah Diocletianus yang menyuruh semua orang menyembah dewa-dewi Romawi. Bahkan, si gadis justru terang-terangan memperkenalkan dirinya sebagai orang Kristen.

Pengakuan jujur itu berbuah siksaan nan berat. Diocletianus naik pitam dan menyuruh pengawal menangkap si gadis. Mereka merobek bajunya dengan kait besi. Tubuhnya yang tak berpenutup menjadi tontonan orang-orang. Selanjutnya ia dipaksa tidur di lantai dan diikatkan pada salib.

Sebuah obor dinyalakan. Obor itu digunakan untuk membakar dadanya hingga merah kesakitan. Nyala api lalu merambat naik ke rambut dan wajahnya. Tak berapa lama kemudian, tubuhnya sudah hangus terbakar.

Gadis itulah St Eulalia dari Mérida. Prudentius (348-413), seorang penyair Spanyol melukiskan, ketika menjelang ajal, seekor merpati putih keluar dari mulut St Eulalia dan terbang di atas tubuhnya. Ketika merpati itu menghilang, turunlah salju putih bersih menutupi tubuhnya. Gadis ini mati sebagai martir pada usia 14 tahun.

Gadis Berang
Eulalia lahir pada Agustus 290 di Mérida. Sejak kecil, ia telah mengenal kekristenan dari kedua orangtuanya. Namun, saat itu kekristenan tumbuh dalam situasi penganiayaan. Jemaat Kristen dihantui ketakutan. Para penguasa Romawi kala itu bersikap keras terhadap orang-orang Kristen. Jemaat Kristen awal ini dikejar-kejar dan dipaksa menyangkal iman mereka. Tak segan-segan pemerintah Romawi menghukum siapa saja yang tak mau menyembah dewa-dewi Romawi. Kaisar-kaisar Romawi begitu bernafsu memusnahkan orang-orang Kristen.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*