Artikel Terbaru

Mengelola Rutinitas Keluarga

Mengelola Rutinitas Keluarga
1 (20%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Terdapat dua pilihan. Pertama, bosan dan secara kreatif mencari variasi. Kedua, menghayati rutinitas dan menemukan kegembiraan di dalamnya.

Peganglah teguh penegasan Nasihat Apostolik Bapa Suci Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio (FC) tentang empat tugas umum bagi keluarga, yaitu membentuk persekutuan pribadi-pribadi, mengabdi kepada kehidupan, ikut serta dalam pengembangan masyarakat, berperan serta dalam kehidupan dan misi Gereja (FC 17). Inilah tugas umum yang harus dijabarkan secara rinci dalam sejarah perjalanan keluarga. Empat tugas itu dilaksanakan, kadang-kadang kurang berhasil, namun lebih banyak keberhasilannya, walau sekecil apapun. Dengan tekad dan komitmen, suami-istri, orangtua dan anak-anak menggapai serta menyelesaikan tugas-tugas itu. Beberapa keluarga merasa bosan karena tidak lagi menghayati dan tekun meraih cita-cita. Kehilangan cita-cita menyebabkan kebosanan dan akhirnya melarikan diri ke dalam variasi yang mencelakakan. Maka, hendaklah selalu menyegarkan cita-cita.

Sebenarnya sejak kelahiran sampai seorang anak menikah, ada begitu banyak hal yang harus diperhatikan oleh orangtua. Setiap tahap perkembangan anak menuntut cara pendampingan yang khas pula. Pendampingan menambah pengalaman dan kebijaksanaan hidup. Dengan sadar dan sedikit refleksi, orangtua bisa menjadi pakar pendidikan tanpa harus ikut kuliah pada Fakultas Pendidikan. Maka begitu selesai bekerja dan berprofesi, pulanglah segera ke keluarga untuk melaksanakan pendidikan anak, antara lain memperhatikan bacaan-bacaannya, menemaninya ke perpustakaan dan toko buku, mendampingi dalam pelajaran ekstra atau les tambahan, menegur anak agar tidak seluruh waktu bermain dengan HP dan nonton TV. Juga orangtua bersama anak mengikuti doa dan pendalaman Kitab Suci di Lingkungan, mendorong anak terlibat dalam kor, dan karya sosial. Jangan anggap sepele kegiatan-kegiatan itu, karena itulah kegiatan untuk mengabdi kehidupan. Dengan demikian orangtua tak mengalami kebosanan karena rutinitas. Sungguh disayangkan semua tugas pendidikan diserahkan kepada asisten rumah tangga atau orang lain.

Baru pertama kali berkeluarga tentu saja suami istri membeli perabot-perabot rumah tangga yang baru, meja, kursi, piring, TV, kulkas, almari, tempat tidur, dan lain sebagainya. Lama kelamaan perabot-perabot itu menjadi tua dan kelihatan usang. Hendaknya jangan beli yang baru kalau tidak rusak. Lemari, meja, dan kursi yang tua itu menemani sejarah perjalanan keluarga. Perabot-perabot tua itu menjadi tanda, simbol, bahkan menjadi semacam sakramen dari Sejarah Cinta Perkawinan. Perabot tua itu berbicara tentang cinta keluarga, tentang cinta suami-isteri yang semakin tua pula. Demikian juga cinta yang semakin matang terpancar dalam tatapan mata, senyum, tawa, percakapan dari pasangan yang semakin tua. Mereka berbahagia dalam usia yang tua bersama dengan perabot-perabot tua itu dan tidak berpikir lagi membeli yang baru. Sebenarnya dalam rutinitas selalu saja ada hal-hal yang baru. Keluarga sebagai komunitas cinta merupakan sebuah misteri. Pemikiran manusia tidak pernah tuntas memahami misteri. Dalam perkawinan yang bahagia ataupun dalam persahabatan yang sejati selalu saja bisa ditemukan aspek-aspek baru pada istri atau sahabat. Betapa pun dekat dan mendalamnya cinta seseorang terhadap istri atau sahabat tidak pernah secara tuntas dipahami dengan konsep-konsep (Gabriel Marcel).

Memang cinta suami-istri bersifat eksklusif, namun tidak berarti tertutup bagi dunia luar. Komunitas keluarga adalah bagian dari komunitas Lingkungan, paroki dan masyarakat. Kegiatan-kegiatan dan hobi dapat dikembangkan secara rutin. Pemain musik dan olahragawan harus secara rutin berlatih. Bahkan seorang imam pun harus secara rutin membaca, belajar dan melakukan refleksi. Tidak ada kemahiran dicapai secara instan. Demikian juga kedewasaan, dan kematangan dalam cinta keluarga justru diperoleh melalui banyak kegiatan rutin.

RD Jacobus Tarigan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 18 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 1 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*