Artikel Terbaru

Ciri Sosial Pemilikan

Ciri Sosial Pemilikan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Bocornya Panama Papers mengakibatkan dentuman keras bagi dunia internasional. Disinyalir, ada modus penghindaran dan penggelapan pajak, skandal pencucian uang dan korupsi, yang dilakukan konglomerasi kelas kakap. Mereka berlomba menimbun kapital.

Dalam tradisi Ajaran Sosial Gereja, penimbunan kapital demi kepentingan pribadi termasuk sebuah skandal. Paus Pius X dalam Ensiklik Quadragesimo Anno (QA, 15 Mei 1931) memberikan landasan mengenai kewajiban pada kelebihan penghasilan. Setiap orang tidak bebas sepenuhnya untuk menentukan sendiri kelebihan yang tidak dibutuhkannya untuk memelihara hidup secara layak dan terhormat. Mereka terikat kewajiban yang amat berat untuk bermurah hati dan membantu sesama (QA 50). Di sinilah ciri pemilikan perorangan dan sosial seperti dua sisi dalam satu keping mata uang.

Dengan demikian, penimbunan kapital memakai alasan kepentingan pribadi telah menciderai hakikat pemilikan itu sendiri. Inilah sikap Gereja yang ditegaskan dalam jejak pastoral Paus Fransiskus. Dalam kunjungan ke Centro Astalli, Roma, September 2013, ia menegaskan, biara-biara kosong tak boleh diubah Gereja menjadi hotel untuk mendapatkan uang, melainkan dibuka untuk panti-panti sosial dan penampungan bagi pengungsi. Bahkan ia mendorong negara-negara maju di Eropa untuk membuka diri terhadap para pengungsi dari Afrika dan Timur Tengah.

Pertanyaannya, apakah Gereja–kita semua dalam level yang berbeda–telah melaksanakan seperti amanat Ajaran Sosial Gereja dan teladan Bapa Suci? Ironis jika lembaga-lembaga yang bernaung di bawah Gereja terjangkit virus skandal korupsi, mengemplang pajak, dan penumpukan kapital demi kepentingan segelintir orang. Pun menerapkan kebijakan diskriminatif terhadap orang-orang yang bekerja di dalamnya. Orang jangan hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, melainkan kepentingan umum! (QA 49).

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 17 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 24 April 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*