Artikel Terbaru

Mereka Harus Kita Kasihi

Romo Piet Go Twan An OCarm
[NN/Dok.HIDUP]
Mereka Harus Kita Kasihi
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comOrang-orang LGBT kadang mengalami marginalisasi dan diskriminasi. Dalam rangka Pastoral Kerahiman Allah, Gereja merangkul mereka.

Menyelisik lebih jauh tentang Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT), HIDUP meminta penjelasan kepada Dosen Teologi Moral Kesehatan, Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang, Jawa Timur, Romo Piet Go Twan An OCarm, melalui surat elektronik.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan LGBT?

Akronim LGBT sebenarnya dapat ditambah dengan huruf I (Intersex) atau Q (Queer). Istilah ini mengungkapkan kesatuan senasib yang tidak tergolong dalam kategori heteroseksualitas yang dianggap sebagai bentuk normal. Dalam kehidupan, mereka menjadi kelompok minoritas yang kadang mengalami marginalisasi, diskriminasi dan tak dihormati hak-haknya serta keanekaragaman seksualitasnya.

Di lain pihak, istilah itu mengandung lebih dari satu gagasan yang tak boleh dicampur adukkan dan perlu ditinjau tersendiri, dengan argumentasi tersendiri. Dari LGBT itu LG (Lesbian, Gay) dapat dibahas bersama, tetapi BT (Bisexual, Transgender) tersendiri.

Menurut penilaian pada umumnya, perbedaan antara moral dan hukum perlu lebih diperhatikan. Banyak hal sekaligus menyangkut norma moral dan hukum yang kurang dibedakan, meskipun tak jarang norma moral dituangkan dalam peraturan perundang-undangan. Jenis norma itu memang dapat saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Bentuk hukum dapat dipakai untuk mempertegas daya ikat norma moral dan pada gilirannya secara psikologis norma hukum dapat mengingatkan manusia akan norma moral.

Menurut antropologi kristiani, pria dan perempuan saling melengkapi serta manusia tak dibenarkan memilih sendiri jenis kelaminnya. Oleh karena itu LGBT bukanlah orientasi seksual yang semestinya.

Bagaimana pandangan Gereja tentang Homoseksualitas?

Bicara soal homoseksualitas ada beberapa catatan penting tentang perkembangan pandangan kalangan ilmuwan. Atas usul American Psychiatric Association (APA) homoseksualitas disisihkan sebagai “disorder” dari bagian “sexual deviancy” dan diganti dengan kategori lebih lunak “Sexual Orientation Disturbance”. Pada 1972, organisasi World Health Organization (WHO) berhenti mengklasifikasikannya sebagai “mental disorder” dan pada 1983, dalam Pedoman Penggolongan dan Dignosis Gangguan Jiwa (PPGDJ) tak memuatnya sebagai gangguan jiwa.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*