Artikel Terbaru

Makna Malam Paskah

Makna Malam Paskah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAda imam yang mengajarkan bahwa upacara Sabtu Malam Paskah itu adalah sebuah vigilia artinya hanya sebuah persiapan perayaan Paskah. Sedangkan perayaan Paskah yang sesungguhnya diadakan pada hari Minggu Paskah pagi. Karena itu, umat yang sudah mengikuti upacara Malam Paskah tetap wajib mengikuti perayaan Paskah yang sesungguhnya yang diadakan pada hari Minggu Paskah pagi hari. Benarkah ajaran ini?

Yosef Hadi Purnomo, 08113775xxx

Pertama, sungguh kurang tepat jika dikatakan bahwa upacara Sabtu Malam Paskah adalah persiapan dan belum merupakan perayaan Kebangkitan Tuhan. Nampaknya kesalahan tafsir ini bermula dari kata vigilia (Latin) yang berarti “penjagaan malam” atau seringkali diartikan “malam sebelum” sebuah hari raya. Kata “sebelum” itulah yang menjadi sumber tafsiran bahwa perayaan Malam Paskah belum dan hanya merupakan persiapan perayaan Kebangkitan. Ajaran ini tidak sesuai dengan isi kekayaan liturgi yang diungkapkan dalam perayaan Malam Paskah.

Kedua, harus ditegaskan bahwa perayaan Malam Paskah sudah merupakan perayaan kebangkitan Tuhan. Upacara Cahaya yang mengawali perayaan Malam Paskah hendak menunjukkan dampak kebangkitan, yaitu terang kebangkitan yang memecahkan kegelapan dosa dan maut. Demikian pula Pujian Paskah adalah nyanyian sorak-sorai atas kebangkitan Tuhan. Nyanyian Kemuliaan dan Alleluia meriah juga hendak menunjukkan perayaan akan kebangkitan Tuhan. Pembaruan Janji Baptis juga adalah ungkapan iman kepada kebangkitan yang dirayakan malam itu. Berbagai liturgi Malam Paskah itu hendak menonjolkan kenyataan kebangkitan yang sudah dirayakan Gereja pada Malam Paskah. Maka sungguh sama sekali tidak tepat mengatakan bahwa perayaan Malam Paskah belum merayakan kebangkitan tetapi hanyalah persiapan dari perayaan kebangkitan yang masih akan dirayakan hari Minggu Paskah.

Ketiga, kunci agar mengerti makna perayaan Malam Paskah itu ialah konsep biblis tentang hari, yaitu yang dimulai dengan malam hari dan bukan pagi hari. Ungkapan dalam Kitab Kejadian tentang kisah penciptaan, “maka jadilah petang dan pagi” memberikan petunjuk bahwa hari diawali dengan petang. Maka kebangkitan Tuhan sudah dirayakan pada Malam Paskah itu dan bukan baru dirayakan pada Minggu Paskah pagi. Semua unsur perayaan liturgi Malam Paskah sudah menegaskan makna perayaan kebangkitan ini. Mungkin kita juga bisa membandingkan dengan perayaan Natal yang dirayakan pada 24 Desember malam hari.

Keempat, liturgi Malam Paskah begitu kaya akan simbol dan makna, tetapi juga bacaan-bacaan liturgi Minggu Paskah sarat akan makna kebangkitan. Menimbang kekayaan makna kebangkitan yang sedemikian berlimpah, maka Gereja menganjurkan agar umat, yang sudah menghadiri perayaan Malam Paskah Kebangkitan, juga menghadiri perayaan Minggu Paskah pagi hari. Anjuran semacam ini sungguh sangat wajar. Dasar anjuran ini adalah kekayaan makna kebangkitan yang diungkapkan dalam liturgi, baik bacaan maupun upacara-upacara lain, baik pada Sabtu Malam Paskah maupun pada Minggu pagi. Kurang bijaksana dan sama sekali tidak tepat jika mengundang umat hadir pada perayaan Minggu Paskah pagi, makna perayaan Malam Paskah Kebangkitan itu direndahkan menjadi sekadar persiapan. Surat PPP no 77 menegaskan hal ini: “Malam Paskah menurut tradisi kuno adalah malam tirakatan (vigili) bagi Tuhan; tirakatan yang diadakan mengenang malam kudus Tuhan bangkit dan karena itu dipandang sebagai induk semua tirakatan.”

Apakah boleh menggunakan salib lebih dari satu pada upacara penyembahan salib?

Anselmus Surartijo, Malang

Jika umat hanya menghormati salib, maka cukuplah dipakai satu saja (PPP No. 69). Tetapi jika dilakukan penciuman salib, maka perlu salib cukup banyak agar upacara penciuman salib tidak memakan waktu terlalu lama.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 17 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 24 April 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*