Artikel Terbaru

Ayahku Seorang Rentenir

Ayahku Seorang Rentenir
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh yang saya kasihi. Saya Erik, 19 tahun, dari Tangerang. Akhir-akhir ini, saya malu karena perilaku ayah saya. Beliau dikenal sebagai “pemain uang” alias rentenir. Bisnis ayah ini sudah berlangsung sejak 10 tahun terakhir. Banyak orang meminjam uang kepadanya dengan bunga pengembalian yang besar. Hal ini berpengaruh pada saya dan dua adik saya. Dalam pergaulan dengan teman-teman, saya sering dipanggil “anak rentenir”. Ejekan dan sebutan anak rentenir itu membuat saya malu, sehingga kurang berani bergaul dan lebih sering berada di kamar. Menghadapi situasi ini, saya sebenarnya sudah ada niat lari dari rumah dan mencari pekerjaan sendiri. Apa yang sebaiknya harus saya lakukan? Terima kasih.

Erik, Tangerang

Salam hangat dari kami untuk Erik. Saya bisa memahami situasi hidup dan perasaan Anda terkait dengan predikat “pemain uang” alias rentenir yang disandang ayahanda. Sebutan “rentenir” di masyarakat kita, konotasinya negatif. Secara lugas, sebutan itu ditudingkan terhadap seseorang yang melakukan kejahatan finansial, bahkan kejahatan moral. Ekses psikososialnya adalah pemberian label negatif atau stigma oleh banyak orang/masyarakat terhadap pelakunya.

Kata “stigma” berasal dari bahasa Yunani yang artinya “tanda” atau “bercak”. Stigma menggambarkan ciri negatif yang melekat pada seseorang, biasanya karena faktor lingkungan atau perbuatan yang pernah dilakukannya. Seringkali stigma tak hanya diarahkan kepada pelakunya secara individual, tapi meluas ke pihak/orang atau lingkungan terdekat dari pelaku, seperti keluarga, pasangan hidup, dan anak-anak.

Dalam hal ini, stigma yang Anda (dan kedua adik) alami adalah akibat dari apa yang dilakukan ayahanda. Alangkah baik bila situasi yang Anda alami ini bisa didialogkan dengan ayahanda bersama ibu. Tentu ini tidak mudah, karena seringkali pihak orangtua ada “kebenaran” yang didaku secara sepihak ketika anak mempertanyakan perilakunya yang kurang/tidak pantas. Pertanyaan anak, kendatipun memiliki dasar kebenaran obyektif, kadang disikapi orangtua sebagai sikap kurang pantas untuk dikemukakan pada orangtua.

Tetap cobalah mendialogkan, semoga orangtua mau mendengar dan mengakomodasi harapan serta aspirasi Anda selaku anak. Akan tetapi, bila dialog macet; janganlah mati harapan. Meski ayahanda bergeming dan posisi Anda tetap terasa “terjebak” dalam stigma, langkah yang bisa ditempuh adalah dengan membuka lebih luas pemahaman dan kesadaran Anda.

Banyak stigma sudah ada seiring dengan tumbuhnya masyarakat, sehingga untuk mengelak darinya bukan hal yang mudah. Stigma seringkali irasional, tapi nyatanya tetap bertahan dalam alam pikiran banyak orang. Stigma itu ibarat virus yang kebal untuk dibasmi. Menimbang itu semua, menurut saya, hal yang lebih penting dan urgen adalah menyadari itu semua dengan pikiran dan hati yang jernih.

Pertama, memaklumi pikiran, pendapat dan sikap orang banyak itu sebagai kewajaran; mengingat bahwa dalam menyikapi hal yang dianggap”baik” dan “buruk”, kebanyakan orang cenderung bersikap “pars pro toto” (sebagian digeneralisasi ke semua). Kedua menyadari bahwa sebagai anak, Anda tidak melakukan hal yang dilakukan ayahanda. Konkretnya, Anda bukan rentenir. Kesadaran ini penting untuk mengantisipasi jangan sampai Anda “tersandera” oleh situasi stigmatis berkepanjangan.

Kita tak bisa menyia-nyiakan waktu berharga hanya untuk memikirkan sikap negatif orang lain kepada kita. Kita tak bisa buang-buang energi hanya untuk menanggapi perlakuan negatif mereka. Andaikan memang Anda sudah siap menjauh dari rumah, mencari pekerjaan, bisa hidup mandiri dan “terbebas” dari stigma; bagaimana dengan situasi adik-adik? Menjauh dari rumah, untuk “membunuh” stigma, nampaknya hanya membebaskan diri sejenak dan bersifat semu. Lebih baik Anda isi hari-hari dengan kegiatan-kegiatan kreatif-konstruktif bernilai sosial yang akan memberi nilai tambah terhadap hidup Anda. Misal, aksi sosial, mengembangkan hobi pribadi, dll. Bila Anda merasa bahwa hidup Anda memiliki makna, lambat laun akan terkikislah beban stigmatis yang selama ini menggelantung membebani hidup Anda. Semoga bermanfaat.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 17 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 24 April 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*