Artikel Terbaru

Makna Stigmata

[Sumber Foto: tiffanysnow.com]
Makna Stigmata
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMohon penjelasan, apakah stigmata itu? Apakah stigmata itu gejala psikologis atau karunia Tuhan? Apakah Padre Pio dinyatakan sebagai orang kudus karena stigmata yang dimilikinya? Apakah bisa dipastikan bahwa orang yang mendapatkan stigmata adalah orang suci? Bagaimana menyikapi gejala stigmata ini?

Tarsisia Melia Budi,
Bojonegoro

Pertama, kata stigmata adalah bentuk jamak dari kata Yunani stigma, yang artinya tanda atau cap bakar pada binatang atau budak untuk menunjukkan pemiliknya. Dalam bahasa gerejani, kata stigmata berarti luka-luka di tubuh yang muncul secara tiba-tiba dan menyerupai luka-luka Yesus tersalib, yaitu luka bekas paku pada tangan dan kaki, luka di lambung bekas tombak, dan luka di dahi menyerupai bekas mahkota duri atau luka di punggung bekas deraan. Luka ini bisa dimiliki hanya satu saja atau beberapa, bahkan semua. Stigmata bisa bersifat sementara atau tetap, bisa kelihatan atau tidak. Orang yang mempunyai stigmata disebut stigmatis. Stigmata mengingatkan kita pada katakata Rasul Paulus: “Selanjutnya, janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.” (Gal 6:17)

Kedua, stigmata yang benar adalah karunia Tuhan, tetapi tidak ada sebuah proses kemunculan yang tetap dan sama. Stigmata bisa tiba-tiba muncul
tanpa sebab yang jelas. Namun demikian, kondisi psikologis seseorang kerap ikut memainkan peran dalam kemunculan stigmata, yaitu berpuasa, tidak tidur dan tidak makan berbulan-bulan lamanya selain menerima Ekaristi, dan adanya keinginan untuk ikut serta dalam penderitaan Yesus di salib.

Ketiga, stigmatis pertama yang diakui Gereja ialah Santo Fransiskus dari Asisi. Sebelum itu, tidak dikenal adanya stigmata sebelum abad XIII. Stigmata bukanlah jaminan atau tanda pasti dari kesucian. Dari 300 kasus stigmatisasi, hanya sekitar 60 orang yang dinyatakan kudus, antara lain Fransiskus dari Asisi, Katarina dari Siena, AnnaKatarina Emmerick, Therese Neumann dari Jerman, dan yang sangat dikenal dari abad XX ialah Santo Padre Pio dari Pietrelcina, Italia. Perlu diperhatikan bahwa ada cukup banyak stigmatis palsu. Mereka sengaja melukai diri sendiri supaya dikagumi dan mendapatkan popularitas, bahkan mengkomersialisasikan. Melalui pengujian dan pengamatan dari dekat secara terus-menerus, banyak stigmatis palsu yang terbongkar.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*